Apa itu Reseksi Usus Kecil?

Usus kecil adalah tabung yang menghubungkan lambung pada kolon (usus besar). Ini merupakan bagian dari sistem pencernaan untuk menyerap zat gizi dari makanan yang telah dimakan. Usus kecil terdiri dari tiga segmen, yaitu:

  • Duodenum - Segmen pertama dan paling pendek yang menerima separuh makanan yang telah dicerna oleh lambung.

  • Jejunum - Segmen tengah, di mana hampir seluruh zat gizi diserap.

  • Ileum - Segmen terakhir yang merupakan persimpangan dengan usus besar.

Ketiganya dapat mengalami kerusakan. Jika tidak dapat diperbaiki, maka akan dilakukan reseksi usus kecil. Prosedur reseksi memiliki nama yang berbeda berdasarkan bagian yang dipotong. Di antaranya duodenoktomi (pengangkatan separuh atau seluruh bagian duodenum), jejunektomi (pengangkatan sebagian atau seluruh jejunum), atau ileektomi (pengangkatan ileum total atau parsial).

Siapa yang Perlu Menjalani Reseksi Usus Kecil dan Hasil yang Diharapkan

Reseksi usus kecil dilakukan untuk mengobati:

  • Kanker usus kecil - Tumor ganas dapat terbentuk di usus kecil dan menyebabkan penyumbatan. Biasanya untuk mengobati kanker, dokter memilih untuk mengangkat segmen yang mengandung kanker. Prosedur bedah ini seringkali diikuti dengan kemoterapi atau terapi radiasi. Tujuannya untuk memastikan jika sudah tidak ada sel kanker yang tersisa di dalam usus kecil. Reseksi usus akan dilakukan jika polip kanker dan tumor yang tidak bersifat kanker ditemukan pada usus kecil

  • Penyakit Crohn - Penyakit Crohn adalah penyakit radang usus yang sangat menyakitkan dan melemahkan. Penyakit ini terkait dengan beberapa komplikasi yang mengancam nyawa. Biasanya, pengobatan dilakukan dengan mengubah gaya hidup dan terapi obat-obatan. Prosedur bedah adalah opsi terakhir untuk penyakit ini. Jika pengobatan non-invasif tidak mampu meredakan gejala pasien, maka akan dilakukan reseksi usus kecil.

  • Ulkus berat - Ulkus adalah lubang pada membran mukosa yang ada di dalam usus kecil. Biasanya, ulkus terbentuk akibat infeksi atau kanker, dan seringkali menyebabkan perdarahan berat.

Untuk hasil yang diharapkan, sebagian besar pasien sembuh dengan baik pasca operasi. Sementara itu, ada pasien yang mengalami komplikasi, termasuk sulit menyerap nutrisi yang dibutuhkan sehingga dapat berujung pada kekurangan gizi.

Cara Kerja Reseksi Usus Kecil

Sebelum menjalani reseksi usus kecil, pasien akan menjalani tes darah, tes urin, dan tes pencitraan, serta elektrokardiogram (EKG). Dokter bedah akan membicarakan rincian operasi, teknik yang digunakan, serta risiko dan kemungkinan komplikasi. Persiapan usus sebelum operasi, seperti membersihkan usus secara total dan minum antibiotik merupakan bagian dari standar operasi.

Sebelum operasi dimulai, dokter akan menyisipkan pipa nasogastrik melalui hidung pasien. Pipa ini akan mencegah mual dan muntah, serta mengeluarkan sekresi lambung selama prosedur berlangsung. Kateter uriner akan digunakan untuk mengosongkan kandung kemih.

Reseksi usus kecil dapat dilakukan melalui prosedur bedah terbuka konvensional atau prosedur laparoskopi.

Dalam prosedur bedah terbuka, dokter akan membuat sayatan panjang di dinding dada. Sayatan berguna untuk mengakses dan mengangkat usus. Dengan tujuan yang sama, prosedur laparoskopi memerlukan lima sayatan kecil. Kamera mini, lampu, dan peralatan bedah akan disisipkan melalui sayatan ini. Dua ujung usus kecil yang telah terpotong akan disambungkan atau dijahit (anastomosis). Apabila tidak mungkin, dokter akan membuat bukaan di bagian perut, yang disebut stoma, untuk melekatkan ujung usus.

Banyak dokter bedah dan pasien yang lebih memilih bedah laparoskopi karena bersifat interupsi pada sistem pencernaan sangat minim.

Prosedur yang umumnya dilakukan di bawah pengaruh bius total ini dapat berlangsung selama satu hinga empat jam. Setelah operasi, pasien akan dipindahkan ke ruang pemulihan hingga efek obat bius hilang. Lalu, pasien dipindahkan ke ruang perawatan biasa, di mana pasien umumnya dirawat selama seminggu sebelum diperbolehkan pulang.

Kemungkinan Komplikasi dan Risiko Reseksi Usus Kecil

Sebagian besar pasien yang menjalani reseksi usus kecil dapat sembuh dengan cepat dan kembali menjalani rutinitas dalam beberapa minggu. Namun beberapa pasien akan menderita diare kronis dan malnutrisi karena kemampuan usus kecil untuk menyerap nutrisi telah menurun.

Reseksi usus kecil jarang berakhir pada risiko dan komplikasi serius. Namun ada beberapa pasien yang mengalami:

  • Perdarahan berat

  • Pembentukan jaringan parut yang menyumbat usus

  • Infeksi

  • Hernia di area sayatan operasi

Risiko komplikasi menjadi lebih tinggi jika pasien merupakan seorang perokok, kekurangan gizi, menderita penyakit kronis atau pernah menjalani operasi perut.

Pasien boleh pulang setelah seminggu pasca menjalani reseksi. Mereka harus menghubungi dokter jika mulai merasakan tanda-tanda infeksi, nyeri perut berkepanjangan, perdarahan rektum, nyeri dada, dan gejala gangguan kemih.

Rujukan:

  • Small bowel resection. (2015, January). http://www.mountsinai.org/patient-care/health-library/treatments-and-procedures/small-bowel-resection

  • Bines, J. E., R. G. Taylor, F. Justice, et al. “Influence of Diet Complexity on Intestinal Adaptation Following Massive Small Bowel Resection in a Preclinical Model.” Journal of Gastroenterology and Hepatology 17 (November 2002): 1170–1179.

Bagikan informasi ini: