Apa itu Splenektomi?

Splenektomi adalah prosedur pengangkatan limpa yang pecah, biasanya akibat cedera perut. Limpa berfungsi untuk melawan infeksi dan mengeluarkan sel darah yang rusak serta zat lain yang tidak dibutuhkan tubuh. Organ ini dapat ditemukan di bawah sangkar rusuk.

Dengan teknologi kedokteran yang sudah sangat maju, prosedur pengangkatan limpa sekarang dapat dilakukan dengan teknik minim invasif. Teknik ini dapat mengurangi resiko yang terjadi saat bedah terbuka dan mempercepat waktu pemulihan pasien.

Splenektomi dibedakan menjadi dua, yaitu total dan sebagian. Perlu dipahami bahwa limpa tidak dapat tumbuh kembali setelah sebagian atau seluruh bagiannya diangkat – berbeda dari organ lain seperti hati. Penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa orang yang memiliki limpa kedua yang lebih kecil, atau “aksesori limpa”, yang biasanya akan menggantikan fungsi limpa yang diangkat.

Siapa yang Perlu Menjalani Splenektomi dan Hasil yang Diharapkan

Splenektomi seringkali dilakukan bagi pasien yang limpanya pecah atau robek akibat cedera perut. Ini dapat meningkatkan resiko pendarahan dalam, yang akan mengancam kondisi pasien secara keseluruhan. Penyebab umum dari cedera limpa adalah:

  • Kecelakaan bermotor
  • Mengikuti olahraga kontak – termasuk hoki, rugby, sepakbola – dan terkena benturan pada perut


Limpa juga dapat pecah bila ukurannya menjadi terlalu besar.

Penyakit lain yang mungkin memerlukan splenektomi adalah:

  • Kanker, terutama kanker yang langsung menyerang limpa atau darah. Misalnya, leukemia limfositik kronis, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, serta leukemia sel rambut .
  • Penyakit darah, seperti anemia sel sabit, polisitemia vera, idiopatik trombositopenia purpura, dan talasemia. Akan tetapi, spelenektomi bukanlah pilihan pengobatan pertama untuk penyakit-penyakit tersebut. Dokter hanya akan menyarankan splenektomi bila pasien telah mencoba pengobatan lain tanpa hasil.

  • Kista atau tumor pada limpa yang jinak namun perlu segera diangkat untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

  • Infeksi parah pada limpa, yang mengakibatkan peradangan dan timbulnya nanah pada limpa. Splenektomi akan disarankan jika infeksi tidak dapat ditangani dengan pengobatan lain.


Splenektomi juga dapat dilakukan sebagai prosedur diagnostik, terutama bagi pasien yang limpanya membesar dan penyebabnya tidak dapat diketahui melalui prosedur diagnostik lainnya.

Cara Kerja Splenektomi

Splenektomi dapat bersifat darurat atau non-darurat. Splenektomi darurat akan segera dilakukan setelah dokter mendiagnosis bahwa limpa pasien telah pecah. Biasanya hal ini diketahui dengan mengamati gejala, seperti tanda vital yang tidak stabil, tekanan darah yang sangat rendah, dan tanda-tanda pendarahan dalam.

Pada kasus non-darurat, dokter perlu memastikan bahwa pasien merupakan kandidat ideal untuk splenektomi. Ini dilakukan dengan melakukan pemeriksaan fisik, termasuk tes darah, uji laboratorium dan prosedur pencitraan lainnya. Dokter juga akan menyarankan diet khusus (kebanyakan terdiri dari cairan) serta memberikan obat untuk membersihkan usus sebelum pembedahan. Pasien juga dapat diberi vaksin untuk mencegah infeksi.

Splenektomi dapat dilakukan menggunakan teknik bedah terbuka tradisional atau teknik minim invasif. Prosedur bedah ini dilakukan di bawah pengaruh bius total.

  • Bedah terbuka – Teknik ini membutuhkan sayatan yang cukup besar di bagian kiri perut untuk mengakses bagian sangkar rusuk di mana limpa berada. Lalu, aliran darah ke limpa akan dihentikan dan limpa dilepaskan dari pankreas. Setelah limpa berhasil diangkat, dokter bedah akan segera menutup sayatan dengan jahitan kecil.

  • Splenektomi laparoskopi – Ini adalah prosedur minim invasif yang menggunakan alat laparoskop, yaitu alat tipis dan panjang yang dilengkapi dengan kamera dan lampu di ujungnya. Prosedur ini membutuhkan 3-4 sayatan kecil di perut untuk memasukkan laparoskop dan alat bedah kecil lainnya. Karbon dioksida akan dimasukkan ke perut untuk menemukan limpa dengan efisien dan aman. Lalu, limpa akan diputus dari pankreas dan diangkat melalui salah satu sayatan. Kemudian, sayatan akan ditutup dengan jahitan kecil atau staple bedah.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Splenektomi

Pada umumnya, splenektomi merupakan prosedur yang aman. Namun seperti prosedur bedah lainnya, prosedur ini juga memiliki kemungkinan komplikasi dan resiko, yaitu:

  • Pendarahan dalam
  • Timbulnya gumpalan darah yang dapat masuk ke peredaran darah pasien
  • Infeksi
  • Cedera atau perforasi pada organ di sekitar limpa, termasuk pankreas, lambung, dan usus besar


Pada jangka panjang, pasien juga dapat mengalami infeksi karena ia sudah tidak memiliki limpa, yang berfungsi untuk melawan infeksi. Untuk mengurangi resiko infeksi yang serius atau mengancam nyawa, dokter biasanya menyarankan vaksin influenza, Haemophilus influenza tipe B, meningococci, dan pneumonia. Antibiotik pencegah infeksi juga dapat diberikan bagi pasien yang rentan terkena infeksi serius.

Rujukan:

  • Brandow AM, Camitta BC. Hyposplenism, splenic trauma, and splenectomy. In: Kliegman RM, Stanton BF, St. Geme, Schor NF, eds. Nelson Textbook of Pediatrics. 20th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2016:chap 487.

  • Lee MH, Phillips EH. Laparoscopic splenectomy. In: Cameron JL, Cameron AM, eds. Current Surgical Therapy. 11th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2014:1345-1349.

  • Shelton J, Holzman MD. The spleen. In: Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL, eds. Sabiston Textbook of Surgery. 19th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:chap 57.

Bagikan informasi ini: