Apa itu Stapedektomi?

Stapedektomi atau bedah laser tulang sanggurdi, adalah prosedur pengangkatan salah satu dari tiga tulang kecil yang terletak pada telinga tengah dengan menggunakan alat bor atau teknologi laser. Tulang kecil ini dikenal dengan nama tulang sanggurdi atau dalam istilah internasional disebut stapes. Prosedur stapedektomi biasanya dilanjutkan dengan penanaman implan mikroprostetik untuk mengobati penyakit otosklerosis atau gangguan pendengaran konduktif yang tidak dapat diperbaiki dengan obat-obatan.

Stapedektomi seringkali disamakan dengan stapedetomi, yaitu prosedur yang melibatkan pembukaan footplate atau landasan tulang sanggurdi untuk menanam implan titanium.

Siapa yang Perlu Menjalani Stapedektomi dan Hasil yang Diharapkan

Stapedektomi adalah prosedur bedah untuk mengobati otosklerosis, penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan abnormal pada tulang sanggurdi sehingga menyebabkan kehilangan pendengaran konduktif karena tulang yang rusak tidak dapat digerakkan, bahkan menempel pada tulang terdekat. Kondisi ini membuat kiriman gelombang suara dari telinga tengah menuju telinga dalam melemah, khususnya koklea yang berperan merubah suara menjadi impuls listrik agar dapat dipahami oleh otak. Pada kebanyakan kasus, otosklerosis dapat merusak koklea secara langsung, sehingga mengganggu keseimbangan dan memicu dengungan pada telinga, yang disebut tinnitus. Walaupun otosklerosis tidak memiliki penyebab yang pasti, para ahli yakin bahwa kondisi ini dapat dipicu oleh beberapa penyakit, seperti campak atau infeksi, atau kondisi bawaan karena gen yang cacat.

Sebelum gejala muncul, otosklerosis berkembang perlahan dalam hitungan bulan hingga tahun. Diawali dengan ketidakmampuan mendengar suara yang samar atau berbisik, kemudian berangsur memburuk.

Stapedektomi dapat meningkatkan kinerja pendengaran pasien secara drastis. Namun, riset membuktikan bahwa sedikitnya 2% dari kasus otosklerosis, berkembang menjadi kehilangan pendengaran atau tuli progresif. Jika kehilangan pendengaran termasuk parah, maka pasien lebih baik diberi alat bantu dengar atau implan koklea.

Cara Kerja Stapedektomi

Pada prosedur stapedektomi, pasien diberi bius lokal atau total, sedangkan tulang yang akan diangkat dapat diakses melalui kanal telinga. Gendang telinga akan dilipat untuk dapat melihat tulang dengan jelas dan dengan bantuan mikroskop, untuk memastikan adanya kondisi otosklerosis.

Jika benar terdapat otosklerosis, maka dokter akan meneruskan prosedur dengan melepas tulang sanggurdi dari osikel atau tulang martil, dengan memanfaatkan paparan sinar laser atau menggunakan alat bor. Dokter juga dapat mengangkat bagian tulang yang rusak saja atau seluruh bagian tulang dengan alat bedah, hal ini tergantung pada luas kerusakan. Paparan laser akan dimanfaatkan kembali dalam pembuatan lubang di dinding yang membatasi telinga tengah dan dalam, tempat tulang sanggurdi berada. Implan prostetik akan ditanam ke dalam lubang, kemudian dihubungkan pada tulang incus. Dokter akan memeriksa fungsi tulang dan prostetik sebelum menutup area bedah dengan bahan graft yang menyerupai jaringan kulit, yang diambil dari potongan lobus telinga. Gendang telinga dikembalikan seperti semula dan kanal ditutup oleh spons atau busa khusus.

Stapedektomi berlangsung selama satu jam dan merupakan prosedur rawat jalan. Sedangkan pasien akan segera pulih dalam hitungan hari.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Stapedektomi

Walaupun pasien telah menjalani stapedektomi, namun terdapat kemungkinan bahwa ia akan terus kehilangan kemampuan mendengar. Prosedur ini juga dapat menyebabkan vertigo, apabila telinga dalam mengalami kerusakan yang parah atau penyakit berkembang menjadi otosklerosis koklea. Perforasi gendang telinga juga dapat terjadi, begitu pula dengan mati rasa parsial pada saraf wajah. Stapedektomi dan stapedotomi memiliki resiko pendarahan dan infeksi yang tinggi, namun stapedotomi dinilai lebih aman karena tidak akan merubah struktur telinga tengah secara keseluruhan.

Rujukan:

  • House JW, Cunningham CD III. Otosclerosis. In: Cummings CW, Flint PW, Haughey BH, et al, eds. Otolaryngology: Head & Neck Surgery. 5th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2010: Bab 144.

  • O'Handley JG, Tobin EJ, Shah AR. Otorhinolaryngology. In: Rakel RE, ed. Textbook of Family Medicine. 8th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011: Bab 19.

Bagikan informasi ini: