Apa itu Stroboskopi?

Stroboskopi adalah prosedur untuk mengevaluasi getaran pita suara. Prosedur ini akan memeriksa pergerakan pita suara saat menghasilkan suara dan mengambil gambar terperinci yang dapat dianalisis oleh dokter. Stroboskopi dilakukan bersamaan dengan laringoskopi, atau pemeriksaan pita suara.

Siapa yang Perlu Menjalani Stroboskopi dan Hasil yang Diharapkan

Stroboskopi dapat dilakukan pada pasien yang mengalami kelainan laring, biasanya disertai gejala perubahan suara. Di antaranya suara parau atau disfonia. Gejala lain meliputi kesulitan bernapas atau hemoptisis. Jika mengalami gejala-gejala tersebut, pasien sebaiknya menjalani stroboskopi untuk mengetahui penyebabnya. Prosedur ini juga dapat mendiagnosis pertumbuhan tumor jinak, seperti nodul, kista, dan polip pada pita suara serta untuk mengevaluasi pasien yang mengalami kelumpuhan pita suara. Stroboskopi juga dapat dilakukan untuk mendiagnosis tumor ganas, seperti kanker laring dan untuk memeriksa keberhasilan pengobatan penyakit laring.

Laringoskopi dapat memeriksa anatomi pita suara, sedangkan stroboskopi memeriksa fungsi dan biomekanisme pita suara. Apabila kedua pemeriksaan ini dilakukan bersamaan, maka dokter dapat mendapatkan banyak informasi mengenai kelainan pita suara yang diderita pasien.

Lebih tepatnya, stroboskopi mengevaluasi beberapa parameter dari siklus getaran pita suara, termasuk frekuensi fundamental, periode, penutupan glotis, dan keselarasan pita suara. Studi menunjukkan bahwa stroboskopi dapat membantu diagnosis penyakit laring pada 30% pasien.

Salah satu keterbatasan stroboskopi adalah ketergantungannya pada operator. Ini berarti kesuksesan prosedur serta kualitas gambar akan sangat ditentukan oleh keahlian dokter yang melakukan stroboskopi, begitu juga dengan analisis hasil.

Dalam beberapa kasus, prosedur tambahan, seperti injeksi pita suara atau eksisi nodul endoskopi, dapat dilakukan bersamaan dengan stroboskopi.

Cara Kerja Stroboskopi

Stroboskopi dapat dilakukan di klinik dan pasien dapat langsung pulang setelah prosedur. Dokter hanya akan memberikan anestesi topikal (oles), karena pasien perlu terjaga selama pemeriksaan untuk menghasilkan suara tertentu.

Stroboskopi dilakukan dengan memanfaatkan cahaya berkedip yang dipancarkan melalui sebuah scope. Walaupun pita suara bergerak dengan sangat cepat, namun teknologi stroboskopi dapat mengevaluasi beragam fase dari siklus getarannya, secara langsung dan dalam gerakan lambat. Cahaya dari lampu strobe akan dipancarkan sesuai dengan frekuensi suara. Biasanya, ada mikrofon untuk mendeteksi frekuensi getaran pita suara, yang kemudian memicu sumber cahaya, dan menghasilkan cahaya yang sesuai dengan frekuensi suara. Dengan begitu, alat stroboskopi dapat menghasilkan gambar yang sangat jelas dan rinci. Apabila cahaya dipancarkan dengan frekuensi yang lebih lambat dari pita suara, maka hasilnya adalah gambar dengan efek gerakan lambat.

Stroboskopi dapat dilakukan dengan menggunakan laringoskop lentur atau kaku. Laringoskop yang kaku dapat menghasilkan gambar yang lebih baik, lebih terang dan lebih besar. Namun, pasien akan merasa lebih tidak nyaman, dan harus lebih bisa menahan diri agar tidak tersedak. Jika menggunakan laringoskop yang lentur, pasien akan lebih merasa nyaman. Alat lentur ini dimasukkan melalui pembukaan glotis yang kecil, sehingga dokter dapat melihat laring dari berbagai sudut. Saat ini, teknologi sudah sangat berkembang, sehingga kualitas serta resolusi gambar semakin membaik.

Saat stroboskopi, pasien diminta duduk di kursi dengan tinggi yang disesuaikan. Kepala akan direnggangkan dan leher ditarik. Anestesi topikal, biasanya dalam bentuk semprotan, diberikan pada lidah dan bagian belakang tenggorokan. Jika menggunakan laringoskopi kaku, lidah pasien ditarik ke depan agar scope dapat dimasukkan ke mulut. Sedangkan pada laringoskopi lentur, scope dimasukkan melalui hidung dan diarahkan ke atas kotak suara.

Setelah dokter dapat melihat pita suara dengan jelas, pasien diminta menghasilkan suara tertentu. Biasanya, pasien perlu mengucapkan bunyi vokal, dengan nada (frekuensi rendah, tinggi, dan sedang) dan volume yang berbeda. Gambar akan ditampilkan dalam bentuk video, yang dapat direkam dan dilihat berulang kali. Rincian tertentu, seperti gelombang mukus dan perubahan bentuk pita suara, dapat diperiksa dengan lebih akurat menggunakan stroboskopi.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Stroboskopi

Stroboskopi jarang menimbulkan komplikasi, dan kebanyakan masalah terjadi karena ketidaknyamanan pasien saat prosedur. Nyeri yang dirasakan sangatlah minim, dan akan langsung hilang. Pasien juga dapat mengalami masalah pada saluran udara, seperti kesulitan bernapas, namun hal ini jarang terjadi. Komplikasi lain yang juga jarang terjadi adalah efek samping dari anestesi atau scope yang digunakan. Pasien dapat mengalami komplikasi akibat prosedur lain yang dilakukan bersamaan dengan stroboskopi. Pada umumnya, stroboskopi merupakan prosedur yang aman dan tidak menyakitkan.

References:

  • Kluch W, Olszewski J. [Videolaryngostroboscopic examination of treatment effects in patients with chronic hyperthrophic larynges]. Otolaryngol Pol. 2008. 62(6):680-5.

  • Low C, Young P, Webb CJ, et al. A simple and reliable predictor for an adequate laryngeal view with rigid endoscopic laryngoscopy. Otolaryngol Head Neck Surg. 2005 Feb. 132(2):244-6.

Bagikan informasi ini: