Apa itu Pengangkatan Kelenjar Submandibula?

Tubuh memiliki tiga kelenjar liur utama, yaitu kelenjar parotis, submandibula, dan sublingual. Seperti bagian tubuh lainnya, ketiga kelenjar ini dapat terkena tumor. Kebanyakan tumor kelenjar liur tumbuh di kelenjar parotis, namun biasanya tidak ganas. Sebagian lainnya yang ditemukan di kelenjar submandibula dan sublingual justru bersifat ganas. Bila terdapat tumor ganas, kelenjar perlu diangkat melalui pembedahan.

Siapa yang Perlu Menjalani Pengangkatan Kelenjar Submandibula dan Hasil yang Diharapkan

Pengangkatan tumor merupakan proses penting dalam pengobatan pasien yang memiliki tumor di kelenjar submandibula. Tumor ganas ini dapat memiliki tingkat rendah hingga tinggi, dan aktivitasnya tergantung pada jenis tumor dan stadiumnya. Jenis tumor yang biasanya tumbuh di kelenjar submandibula adalah karsinoma kistik adenoid dan karsinoma mukoepidermoid.

Pasien yang memiliki tumor di kelenjar submandibula biasanya akan memiliki benjolan lunak di lehernya. Selain nyeri, tumor akan menyebabkan gangguan saraf, terutama di saraf hipoglosal. Akibatnya, pasien dapat lumpuh.

Tumor tingkat rendah umumnya memiliki prognosis baik, dengan angka ketahanan hidup 5 tahun mencapai 70%. Lain halnya dengan tumor tingkat tinggi, yang prognosisnya lebih buruk. Pada kasus yang melibatkan invasi saraf dan penyebaran tumor regional, pasien dapat menjalani terapi radiasi setelah pembedahan.

Indikasi lain dari pengangkatan kelenjar submandibula adalah peradangan kronis akibat terbentuknya batu. Walaupun jarang, pasien yang mengalami trauma pada area submandibula juga perlu menjalani pengangkatan kelenjar submandibula.

Cara Kerja Pengangkatan Kelenjar Submandibula

Sebelum pengangkatan kelenjar submandibula, pasien diberi bius total agar tertidur. Kepala pasien akan diarahkan ke sisi yang berlawanan dari tumor. Pada dasarnya, tujuan prosedur ini adalah mengangkat seluruh bagian kelenjar submandibula, termasuk nodus limfa submandibula, tanpa membahayakan saraf.

Pembedahan di area submandibula diawali dengan membuat sayatan melengkung di rahang, mulai dari bagian tengah hingga ke tulang mastoid (dekat telinga). Lalu, dokter membuat flap di bawah otot platysma, yang tetap melekat di kulit. Dokter akan mencari saraf wajah, terutama cabang marginal, agar dapat dihindari selama pembedahan, kecuali jika saraf rusak akibat tumor. Saraf ini dapat ditemukan tepat di bawah otot platysma.

Kemudian, kelenjar submandibula akan dipotong secara perlahan, mulai dari tulang hyoid. Lalu saraf hipoglosal diidentifikasi, yaitu di antara otot digastrik dan kelenjar submandibula. Saraf lingual juga diidentifikasi, yang dapat ditemukan setelah otot milohioid ditarik.

Pemotongan akan terus dilanjutkan hingga arteri wajah, yang berfungsi mengalirkan darah ke kelenjar submandibula. Arteri ini akan diikat, namun disisakan sedikit ruang untuk berjaga-jaga jika arteri tertarik ke bawah otot digastrik. Pengangkatan kelenjar submandibula akan diakhiri dengan pengikatan saluran Wharton.

Dokter bedah dapat mengirimkan kelenjar submandibula untuk biopsi potong beku untuk menentukan apakah tumor sudah diangkat sepenuhnya. Pemeriksaan akan dilakukan saat pasien masih berada di ruang operasi, dan hasilnya ditentukan berdasarkan temuan histologi. Proses pengangkatan perlu dilanjutkan jika ternyata tumor telah menyebar ke bagian lain, misalnya tulang rahang. Apabila terjadi pembesaran nodus limfa di leher, maka akan diangkat saat itu juga.

Setelah pengangkatan tumor selesai, dokter akan mengeluarkan sisa cairan dan menutup sayatan secara bertahap. Luka akan ditutup dengan kasa steril.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Pengangkatan Kelenjar Submandibula

Pengangkatan kelenjar submandibula perlu dilakukan oleh dokter bedah yang sangat memahami anatomi kepala dan leher, karena banyak organ penting tubuh yang berada di area ini. Cedera pada bagian vital ini dapat menyebabkan kerusakan vital dan permanen.

Salah satu komplikasi paling serius dan berbahaya adalah cedera saraf, terutama pada saraf wajah (hipoglosal atau lingual). Sekitar 10-30% kasus berujung pada kelumpuhan wajah atau paresis setelah pembedahan. Sebagian besar kasus hanya bersifat sementara, terjadi karena otot wajah tertarik saat pembedahan atau karena peradangan. Komplikasi ini biasanya akan sembuh dalam beberapa minggu atau bulan. Namun, 7-12% kasus menyebabkan kelumpuhan wajah permanen. Akibatnya, pasien tidak dapat menggerakkan otot wajah yang ada di dekat bibir. Kerusakan permanen pada saraf lingual dan hipoglosal lebih jarang terjadi (2-5%). Terkadang, saraf juga perlu diangkat karena terserang tumor. Bila hal ini terjadi, dokter mungkin perlu melakukan cangkok saraf saat pembedahan.

Selain cedera saraf, komplikasi lainnya meliputi infeksi dan masalah pada luka, misalnya timbul bekas luka. Pendarahan dan hematoma dapat diminimalisir dengan hemostasis yang baik. Sedangkan penggunaan perban dan selang pengeluaran cairan dapat mengurangi resiko seroma. Ada kemungkinan tumor akan kembali tumbuh, karena pemotongan tumor yang tidak menyeluruh. Terbentuknya fistula liur juga pernah dilaporkan. Pada kasus tumor jinak, peradangan kronis dapat terjadi di area bedah karena batu yang tersisa di kelenjar liur.

Rujukan:

  • Strympl P, Kodaj M, Bakaj T, Kominek P, Starek I, Sisola I, et al. Color Doppler Ultrasound in the pre-histological determination of the biological character of major salivary gland tumors. Biomed Pap Med Fac Univ Palacky Olomouc Czech Repub. 2012 Sep 5.

  • Witt BL, Schmidt RL. Ultrasound-guided core needle biopsy of salivary gland lesions: a systematic review and meta-analysis. Laryngoscope. 2014 Mar. 124 (3):695-700.

Bagikan informasi ini: