Apa itu Suntikan Penghilang Rasa Sakit?

Rematik, osteorartritis dan migrain kronis adalah beberapa jenis penyakit yang sangat menyakitkan. Pada stadium awal, rasa sakit dapat dihilangkan dengan obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas, misalnya obat anti peradangan non-steroid (non-steroidal anti-inflammatory drugs/NSAIDS). Seiring memburuknya penyakit, NSAIDS menjadi tidak efektif, sehingga pasien akan membutuhkan obat penghilang rasa sakit yang lebih kuat seperti suntikan penghilang rasa sakit.

Beberapa orang mungkin tidak senang disuntik. Namun, tindakan ini dapat menghilangkan rasa sakit lebih lama, sehingga banyak orang berubah pikiran. Dalam beberapa kasus, satu-satunya alternatif adalah operasi, yang banyak dihindari orang karena risikonya yang tinggi dan kemungkinan komplikasi.

Efek dari suntikan penghilang rasa sakit biasanya tahan lama. Sebagai contoh, obat kortikosteroid yang disuntikkan ke otot yang sakit dapat menghilangkan rasa sakit sampai enam bulan.

Selain mengobati kondisi medis, suntikan penghilang rasa sakit juga dapat menyembuhkan rasa sakit akibat cedera akut dan cedera karena terlalu sering digunakan, nyeri otot, nyeri punggung, dan sakit kepala.

Suntikan penghilang rasa sakit dapat dikategorikan berdasarkan bagian tubuh yang disuntik – sendi, jaringan halus, dan saraf.

  • Suntikan pada sendi digunakan untuk menyembuhkan nyeri sendi. Jenis obat ini disuntikkan langsung ke sendi yang sakit dengan bantuan alat sinar-X untuk membantu dokter mengarahkan jarum suntik ke lokasi sendi.

  • Suntikan pada jaringan halus digunakan untuk menyembuhkan rasa sakit akibat bursitis, yang merupakan peradangan kantung kecil yang berisi cairan di antara tulang dan tendon.

  • Suntikan penghambat saraf dapat menghilangkan rasa sakit dengan mencegah sinyal nyeri agar tidak sampai ke otak melalui saluran saraf. Jenis suntikan ini biasanya digunakan selama operasi dan efeknya hanya terasa sebentar saja.


Selain tiga kategori dasar tersebut, suntikan penghilang rasa sakit juga dapat menyembuhkan nyeri otot. Suntikan jenis ini biasanya disebut suntikan trigger point. Jenis suntikan ini dapat membantu merelaksasi otot dan mengurangi peradangan. Suntikan trigger point biasanya menggunakan kombinasi kortikosteroid dan anestesi.

Siapa yang Perlu Suntikan Penghilang Rasa Sakit dan Hasil yang Diharapkan

Suntikan penghilang rasa sakit biasanya dilakukan pada pasien yang mengalami nyeri parah atau kronis yang tidak dapat disembuhkan dengan NSAID. Untuk nyeri kronis, akan lebih baik apabila diobati dengan suntikan ini daripada dengan penggunaan NSAID dalam jangka panjang. Efek dari suntikan penghilang rasa sakit biasanya langsung terasa, namun dalam beberapa kasus bisa membutuhkan beberapa hari. Namun, biasanya rasa sakit pasien akan hilang selama 3-6 bulan.

Apabila Anda mengalami nyeri parah atau kronis dan khawatir dengan efek samping negatif dari NSAID, sebaiknya Anda membicarakan kemungkinan penggunaan suntikan penghilang rasa sakit dengan dokter Anda.

Cara Kerja Suntikan Penghilang Rasa Sakit

Tindakan ini hanya boleh dilakukan dokter ahli yang sudah terlatih untuk menyuntikkan obat penghilang rasa sakit, terutama apabila suntikan bertujuan untuk menyembuhkan nyeri sendi. Proses penyuntikan seringkali rumit dan harus dilakukan dengan hati-hati, oleh karena itu alat sinar-X akan digunakan untuk membantu dokter mengarahkan jarum suntik ke bagian tubuh.

Sebelum diperbolehkan pulang, pasien yang disuntik dengan penghilang rasa sakit biasanya akan diperiksa apakah mengalami efek samping.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Suntikan Penghilang Rasa Sakit

Suntikan penghilang rasa sakit memang memiliki efek samping, namun efek tersebut tidak dialami oleh semua pasien yang menjalani tindakan ini. Efek samping atau komplikasi yang paling umum adalah infeksi, alergi, hematoma, reaksi beracun yang parah, kebingungan, dan hilang kesadaran.

Infeksi biasanya terjadi karena bagian tubuh yang disuntik tidak dirawat dengan baik setelah tindakan. Maka dari itu, area suntikan harus dijaga agar tetap bersih sampai luka pulih sepenuhnya.

Alergi jarang terjadi karena biasanya pasien akan menjalani tes alergi sebelum disuntik. Namun, ada beberapa pasien yang mengalami pusing, vertigo, hipertensi, cemas, mual, dan takikardia.

Reaksi beracun yang parah biasanya terjadi karena overdosis. Komplikasi ini dapat menyebabkan pingsan, hipotensi, bradikardia, penekanan pernapasan, dan berhentinya jantung. Apabila gejalanya tidak segera ditangani, reaksi beracun yang parah dapat mengakibatkan kegagalan total pada sistem pernapasan dan kardiovaskular, yang nantinya bisa menyebabkan kematian.

Selain kemungkinan komplikasi ini, penyuntikan ini sendiri juga berisiko, misalnya kerusakan saraf langsung. Kondisi ini biasanya terjadi karena dokter lalai atau kurang ahli. Namun, bahkan dokter yang sangat ahli dan berpengalaman pun juga bisa menyebabkan kerusakan saraf ini.

Rujukan:

  • Benzon, H. Raj's Practical Management of Pain, Mosby, 2008.
  • Canale, S. Campbell's Operative Orthopedics, Mosby, 2008.
  • American Academy of Neurology: "Assessment: Use of Epidural Steroid Injections to Treat Radicular Lumbosacral Pain."
Bagikan informasi ini: