Injeksi sendi anak adalah tindakan medis yang dilakukan untuk mendiagnosa dan/atau mengobati artritis idiopatik juvenil.

Artritis idiopatik juvenil adalah penyakit peradangan pada anak yang menyerang sendi. Biasanya, mulai terjadi saat anak berusia 16 tahun dan bertahan paling tidak enam minggu. Sekitar 300.000 anak muda berusia 21 tahun dan di bawahnya, mengalami artritis jenis ini.

Artritis idiopatik juvenil terbagi menjadi beberapa jenis, di antaranya:

  • Juvenile dermatomyositis – dikarakteristikan dengan ruam pada buku-buku jari dan melemahnya otot.
  • Juvenile lupus – salah satu penyakit autoimun di mana sistem imun menyerang jaringan-jaringan tubuh.
  • Penyakit Kawasaki – dikarakteristikan dengan pembengkakan kelenjar dan dapat memicu komplikasi hati.
  • Juvenile scleroderma – dikarakteristikan dengan mengencangnya kulit


Selama beberapa tahun sebelumnya, artritis idiopatik juvenil yang juga dikenal sebagai artritis reumatoid juvenil, dianggap sebagai penyakit autoimun. Namun, Arthritis Foundation sedang meneliti kemungkinan bahwa artritis idiopatik juvenil adalah kondisi auto-inflammatory.

Untuk memahami perbedaannya, penyakit autoimun berkembang saat sistem imun gagal untuk membedakan benda asing dalam tubuh dan jaringan yang sehat. Sementara, auto-inflammatory adalah sistem bawaan yang berkembang semenjak dilahirkan. Menggunakan neutrophils dan monocytes yang berfungsi untuk menghilangkan zat yang berbahaya bagi tubuh. Saat sistem bawaan ini gagal, maka dapat menyebabkan peradangan sendi.

Siapa yang Perlu Menjalani Injeksi Sendi Anak & Hasil yang Diharapkan

Injeksi sendi anak direkomendasikan bagi: * Anak yang memiliki keluarga penderita artritis idiopatik juvenil – Beberapa penelitian yang dilakukan pada anak kembar menunjukkan, resiko lebih tinggi pada mereka yang memiliki keluarga penderita artritis idiopatik juvenil. * Mereka yang menunjukkan tanda dan gejala tertentu – Tanda dan gejala dapat bervariasi tergantung pada jenis artritis idiopatik juvenil dan pengalaman yang dirasakan anak. Namun, biasanya mereka merasakan nyeri sendi, pembengkakan, sendi kaku terutama di pagi hari, iritabilitas, sulit untuk berjalan, nyeri otot, ruam dan demam. Tapi, ini bisa jadi gejala dari masalah sendi yang lain. Namun, gejala di artritis idiopatik juvenil dapat bertahan paling tidak 6 minggu. * Anak yang merasakan nyeri sendi yang disebabkan oleh infeksi bakteri * Mereka yang menderita artritis idiopatik juvenil tapi pengobatannya tidak berhasil – injeksi kortikosteroid diberikan sebagai pilihan terakhir untuk mengobati artritis idiopatik juvenil.

Cara Kerja Injeksi Sendi Anak

Injeksi sendi anak dapat dilakukan sebagai tindakan diagnostik atau terapeutik.

Arthrocentesis adalah tindakan yang dilakukan untuk mendiagnosa artritis idiopatik juvenil. Dimulai dengan memberikan bius lokal pada bagian yang diduga mengalami peradangan, lalu antiseptik akan dioleskan. Jarum suntik akan dimasukkan perlahan ke bagian peradangan untuk mengambil cairan sendi, yang akan dianalisa di laboratorium.

Ada beberapa kasus, di mana anak perlu diberikan obat penenang sebelum tindakan dijalankan, terutama jika anak masih sangat kecil dan merasa gugup. Anak bersama dengan orang tuanya, perlu membahas proses pemberian obat penenang dengan ahli anastesi. Anak harus berpuasa sebelum cairan sendi diambil – mereka diperbolehkan makan besar 8 jam sebelum obat penenang diberikan, dan dua jam sebelum obat penenang diberikan, tidak ada makanan atau minuman yang boleh dikonsumsi. Setelah tindakan selesai, pasien akan diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi.

Injeksi pada sendi anak juga dapat dilakukan untuk mengobati artritis idiopatik juvenil. Jarum suntik digunakan untuk memasukkan kortikosteroid seperti methyl-prednisolone, triamcinolone acetonide, atau triamcinolone hexacetonide. Semuanya akan diberikan satu hingga tiga kali pertahun atau sesuai kebutuhan pada kasus ringan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Injeksi Sendi Anak

Kortikosteroid lebih kuat dibandingkan obat artritis lainnya, dan karena obat tersebut disuntikan langsung ke sendi, efeknya langsung terasa. Gejala-gejalanya akan berkurang beberapa hari setelah tindakan dilakukan, dan akan bertahan dalam waktu yang lama. Meskipun kortikostreoid memiliki efek samping, yang menjelaskan kenapa pemberiannya dibatasi beberapa kali saja dalam satu tahun, resikonya dianggap sangat kecil.

Meskipun demikian, dokter, orang tua, dan anak perlu berhati-hati jika terjadi infeksi yang dibarengi dengan demam, pembengkakan, serta kemerahan pada bagian yang mendapatkan injeksi. Pasien yang menunjukkan tanda-tanda ini dalam waktu 24 – 48 jam setelah injeksi, perlu menemui dokter segera.

Pasien juga mungkin merasakan nyeri ringan hingga parah. Di tahun 2010, penelitian yang diikuti oleh 160 dokter yang bekerja dengan 33 anak penderita artritis idiopatik juvenil dengan umur rata-rata 8 tahun, 78% merasa nyeri ringan bahkan tidak terasa sama sekali, sementara 4% merasakan nyeri parah.

Rujukan

  • Canale ST, Beaty JH, eds. Campbell's Operative Orthopaedics. 11th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2007.

  • Silverstein JA, Moeller JL, Hutchinson MR. Common issues in orthopedics. In: Rakel RE, ed. Textbook of Family Medicine. 8th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 30.

  • Musculoskeletal disorders. In:Frontera, WR, Silver JK, Rizzo TD Jr, eds. Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation. 2nd ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2008:chap 1-88.

Bagikan informasi ini: