Apa itu Pemasangan Alat Pacu Jantung?

Pacu jantung (pacemaker) adalah sebuah alat tenaga baterai yang ditanamkan dengan pembedahan ke dada dan mengirimkan sinyal untuk mengatur detak jantung. Ini direkomendasikan bagi pasien yang memiliki masalah jantung yang menyebabkan jantungnya berdetak terlalu cepat atau terlalu lambat sehingga menimbulkan beragam gejala, seperti pingsan, pusing ringan, napas pendek, dan mudah lelah.

Siapa yang Perlu Menjalani Pemasangan Alat Pacu Jantung & Hasil yang Diharapkan

Pemasangan alat pacu jantung sangat membantu bagi mereka yang menderita atau mengalami:

  • Bradikardia – detak jantung pelan yang tidak normal disebabkan kerusakan sa node

  • Takikardia Supraventrikular – detak jantung cepat yang tidak normal disebabkan oleh kerusakan sa node.

  • Penyumbatan Jantung – saat ada sinyal listrik salah di jantung dapat menyebabkan detak jantung tidak teratur

  • Gagal jantung – saat terjadi masalah kelistrikan di dalam jantung yang menyebabkan jantung berhenti berdetak, membahayakan nyawa seseorang.

Pemasangan alat pacu jantung dilakukan dengan prosedur sederhana dan langsung. Alat ini dirancang untuk mengirimnkan sinyal elektrik ke jantung untuk memastikan detaknya stabil, yang disebut discharge rate. Detak ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi pasien. Alat ini hanya akan dipasangkan sekali dan memiliki baterai yang dapat bertahan enam sampai sepuluh tahun, tergantung jenis pacu jantung yang digunakan. Semakin modern alatnya, makin banyak energi yang digunakan sehingga hanya bertahan dalam waktu yang lebihsedikit. Sebuah alat pacu jantung bekerja dengan bantuan dari generator detak jantung dan sirkuit komputer yang merubah energi dari baterai menjadi detak elektrik yang secara efektik merangsang kontraksi jantung sesuai permintaan; ini berarti jika ala ttersebut mendeteksi gangguan atau merasa jantung tidak berdetak dengan normal, pacu jantung akan mengirimkan sinyal elektrik, namun berhenti saat jantung berdetak normal kembali.

Alat pacu jantung dapat mengimbangi dengan tingkat aktivitas tubuh, berkat sensor khusus yang dapat mengenali apakah tubuh lebih aktif sehingga membutuhkan discharge rate lebih cepat.

Cara Kerja Pemasangan Alat Pacu Jantung

Alat pacu jantung dipasang oleh dokter ahli jantung atau ahli medis lainnya yang memiliki spesialisasi mengobati masalah jantung dan telah menerima pelatihan khusus untuk pemasangan alat pacu jantung.

Sebelum bedah pemasangan alat pacu jantung, pasien akan melakukan tes penilaian untuk memastikan mereka sehat untuk menjalani pembedahan. Tes penilaian ini, biasanya melibatkan tes darah dan rontgenm, membantu untuk menentukan bentuk bedah pemasangan yang akan dilakukan, yang bisa jadi implantasi transvena atau implantasi epikardial.

Bedah pemasangan alat pacu jantung dimulai dengan pemberian bius lokal, yang membuat pasien tetap terjaga namun tidak dapat merasakan apa-apa selama tindakan berlangsung. Setelah bius bekerja, pembedahan akan dimulai.

  • Implantasi transvena – Prosedur ini dilakukan dengan membuat sayatan seukuran 2 inci di dada bagian sebelah kiri di dekat tulang selangka. Karena alat pacu jantung ditempatkan tepat di bawah kulit, maka tidak memerlukan prosedur berisiko tinggi. Setelah alat pacu jantung dipasang, lalu dihubungkan ke jantung menggunakan pemicu atau kabel yang diarahkan melewati pembuluh darah. Dalam beberapa kasus, lebih dari satu pemicu digunakan; tergantung jenis alat pacu jantung yang digunakan, misalnya satu bilik, dua bilik, atau biventrikular. Terlepas dari jenis alat yang digunakan, prosedur ini memakan waktu hanya satu jam namun pasien biasanya perlu tinggal di rumah sakit semalam untuk dipantau. Biasanya keadaan pasien sudah cukup baik untuk kembali ke rumah keesokan harinya dan dapat melanjutkan aktivitas seperti biasa, dengan segera.

  • Implantasi Epikardial – Prosedur ini bekerja dengan membuat sayatan di bagian abdomen, tepat di bawah dada dan melekatkan alat pacu ke permukaan luar jantung yang disebut epikardium. Karena ini merupakan bedah terbuka, maka dibutuhkan bius total. Ini dilakukan hanya jika pasien juga dijadwalkan untuk melakukan bedah jantung terbuka. Bedah jenis ini memakan waktu pelaksanaan dan masa penyembuhan yang lebih lama.

Terlepas dari metode yang digunakan, alat pacu jantung akan diuji pertama kali setelah terpasang. Ini perlu dilakukan untuk memastikan alatnya bekerja dengan benar. Saat proses pengujian pasien akan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ini penting bagi pasien untuk memberitahu tim bedah atau medis dengan segera, jika merasakan gejala-gejala yang tidak biasa saat tahap pengujian sehingga penyesuaian dapat dilakukan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Pemasangan Alat Pacu Jantung

Implantasi alat pacu jantung, terutama yang dilakukan dengan transvena, memiliki resiko komplikasi yang rendah.

Untuk menghindari komplikasi pasca bedah, pasien disarankan untuk menghindari aktivitas berat untuk empat sampai enam minggu pertama setelah pemasangan. Setelah sembuh benar, alat pacu jantung seharusnya tidak menghambat aktivitas mereka dan pasien dapat melakukan hampir semua aktivitas, termasuk olahraga.

Kemungkinan komplikasi dari pemasangan alat pacu jantung termasuk:

  • Ketidaknyamanan pasien – Alat pacu jantung cenderung menyebabkan ketidaknyamanan pada awalnya karena mudah terasa terutama saat berbaring, namun pasien lama-lama akan terbiasa.

  • Reaksi alergi – Pasien mungkin memiliki reaksi alergi terhadap obat bius yang digunakan saat prosedur. Sehingga, penting bagi pasien untuk memberitahu dokter mereka tentang alergi yang diderita sebelum pembedahan berlangsung.

  • Malfungsi alat pacu jantung – Resiko terbesar adalah malfungsi dari alat pacu jantung. Jika ini terjadi, bedah lainnya perlu dilakukan untuk menggantikan alat tersebut.

Untuk menghindari komplikasi dan mempercepat proses penyembuhan, pasien sebaiknya menjalankan pola makan sehat dan berhenti merokok.

Rujukan:

  • Swerdlow CD, Hayes DL, Zipes DP. Pacemakers and implantable cardioverter-defibrillators. In: Mann DL, Zipes DP, Libby P, et al, eds. Braunwald's Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. 10th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2014:chap 36.
Bagikan informasi ini: