Apa itu Photodynamic Therapy (PDT)?

Photodynamic Therapy (PDT) adalah prosedur kecantikan dan perawatan bedah non-invasif untuk berbagai macam gangguan kesehatan termasuk jenis-jenis kanker tertentu, seperti kanker saluran cerna, kanker paru-paru, dan lesi kanker pre-kulit. PDT mencakup dua komponen: obat yang biasanya disebut dengan agen fotosensitisasi dan sinar.

Disebut juga dengan sinar biru atau fotokemoterapi, Photodynamic Therapy menggunakan bermacam-macam jenis sinar seperti laser, sinar biru, dan LED untuk mengaktifkan komponen-komponen yang ada di dalam obat untuk menghancurkan jaringan-jaringan yang rusak dan sel-sel abnormal.

Dibandingkan dengan jenis perawatan lainnya untuk kanker dan kulit, PDT terbilang lebih murah dan lebih aman. Dan tidak seperti radioterapi, PDT dapat diterapkan pada tempat yang sama selama beberapa kali tanpa memberi risiko pada pasien. Walaupun ada efek samping seperti sensitivitas terhadap sinar dan rasa seperti terbakar, namun dapat hilang dalam beberapa hari setelah perawatan.

PDT merupakan tindakan rawat jalan dan pasien diperbolehkan kembali ke aktivitas normal setelah menjalani perawatan ini selama mereka menghindari paparan langsung sinar matahari selama satu minggu. Akan tetapi, terapi ini juga memiliki keterbatasan. Walaupun panjang gelombang sinarnya dapat bervariasi, namun dapat mencapai lapisan kulit dan jaringan yang lebih dalam. Sehingga terapi ini dapat saja tidak bekerja pada kanker yang telah masuk ke lapisan kulit terdalam. Terlebih lagi, perawatan PDT bersifat terlokalisasi, sehingga tidak efektif bagi kanker yang telah menyebar ke organ tubuh lainnya.

Sedangkan untuk obat yang digunakan, sejauh ini terdapat tiga macam yang telah disetujui oleh Badan Administrasi Makanan dan Obat (B-POM Amerika Serikat). Obat-obat tersebut adalah sodium porfimer, ALA (asam aminolevulinic), dan ester metil. Sodium Porfimer adalah obat yang direkomendasikan untuk perawatan kanker yang mempengaruhi organ dalam tubuh dan biasanya dihantarkan melalui pembuluh darah sementara dua obat lainnya dipakaikan melalui kulit. Sedangkan ALA bekerja dengan sinar biru dan ester metil diaktifasi dengan sinar merah.

Siapa yang Harus Menjalani Photodynamic Therapy dan Hasil yang Diharapkan

Badan Administrasi Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) telah menyetujui penggunaan PDT untuk perawatan kanker saluran cerna dan kanker paru-paru. Namun, pasien yang memiliki fistula atau pembuluh darah yang membesar tidak diperbolehkan menjalani perawatan ini. Uji klinik pada PDT saat ini sedang dilakukan dengan menggunakan teknologi untuk merawat kanker hati, perut, serviks, dan prostat,sehingga sinar yang digunakan seharusnya mampu masuk ke lapisan yang lebih dalam.

PDT juga dikenal dapat mengobati keratosis aktinik (actinic keratosis/AK). AK adalah lesi kanker pra-kulit yang ditandai dengan adanya pertumbuhan kulit yang mengeras pada wajah, punggung tangan, dan bibir. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh paparan sinar matahari yang terlalu banyak sehingga kulit mengalami kerusakan akibat sinar matahari. Sementara klinik kulit menggunakan PDT untuk merawat kasus-kasus jerawat sedang sampai dengan parah karena telah terbukti sangat efektif dalam mengurangi pori-pori membesar, bekas luka akibat jerawat, dan kerusakan kulit tahap awal karena paparan sinar matahari.

Perawatan ini tidak dianjurkan bagi orang yang menderita porphyria (gangguan darah menurun yang disebabkan oleh pembentukan porphyrin) dan penderita systemic lupus erythernatous (SLE).

Hasil dari terapi ini akan bermacam-macam tergantung dari kondisi kesehatan yang dirawat, jenis obat serta sinar yang digunakan, serta respon tubuh pasien secara keseluruhan terhadap pengobatan ini.

Beberapa pasien akan mengalami kemajuan yang signifikan setelah menjalani satu sesi sementara yang lainnya dapat saja tidak mendapatkan hasil apapun dari terapi ini. Biasanya terjadi pada orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang berbeda seperti pasien dengan HIV/AIDS, sehingga mereka harus terus dipantau oleh dokter sebelum menjalani PDT.

Cara Kerja Photodynamic Therapy

Karena menggunakan beberapa jenis obat dan sinar, maka terdapat beberapa metode yang digunakan saat melakukan Photodynamic Therapy ini. Jika permasalahannya terletak di dalam atau di dekat permukaan kulit, obat yang digunakan biasanya berjenis obat oles (salep). Akan tetapi, obat tersebut juga akan dimasukkan melalui pembuluh darah, yang biasanya dilakukan pada kasus pengobatan kanker. Obat tersebut selanjutnya akan menemukan jalan menuju ke sel-sel tubuh. Saat sel-sel normal akan membuang obat tersebut, obat tersebut akan bergerak lebih mendekati kepada sel-sel kanker. Proses ini biasanya memakan waktu dan sinar dipancarkan ke organ yang memiliki kanker setelah tiga hari diberi obat.

PDT pada kulit lebih mudah karena lesi biasanya terlihat. Untuk kanker, sinar biasanya dipancarkan melalui kabel serat optik atau melalui endoskopi, yakni sebuah tabung fleksibel yang dimasukkan ke dalam organ tubuh. Karena sinar hanya akan bekerja pada sel yang diberi obat saja, maka seharusnya hanya sel-sel kanker saja yang dihancurkan oleh sinar tersebut.

Jika PDT harus dilakukan pada kulit, maka kulit harus dibersihkan dan dihilangkan minyaknya terlebih dahulu sebelum diberi obat pada area yang dituju dan kemudian sinar dipancarkan.

Dalam PDT, hanya dibutuhkan bius lokal saja.

Kemungkinan Risiko dan Komplikasi Photodynamic Therapy

Kebanyakan pasien menjadi sensitif terhadap sinar, dan juga mengalami rasa seperti terbakar dan geli pada kulit. Akan tetapi hal-hal tersebut akan hilang seiring berjalannya waktu. Dapat juga timbul bekas luka dan pembengkakan.

Rujukan:

  • Cancer Research UK
  • MacMillan Cancer Support
Bagikan informasi ini: