Apa itu Torakoskopi?

Torakoskopi adalah tindakan operasi rendah risiko yang dilakukan pada paru-paru untuk mendiagnosa masalah, terutama pada daerah rongga pleura. Tindakan ini adalah cara alternatif untuk meminimalisir risiko daripada torakotomi, dan dapat dilakukan baik sebagai tindakan diagnostik atau terapeutik, bahkan keduanya.

Siapa yang Harus Menjalani Torakoskopi & Hasil yang Diharapkan

Torakoskopi dilakukan untuk tujuan berikut:

  • Pemeriksaan internal dan analisis paru-paru, rongga pleura, dinding dada, perikardium, dan mediastinum
  • Biopsi paru-paru, pleura, atau mediastinum
  • Reseksi massa pada paru-paru
  • Pengeluaran cairan yang menumpuk pada rongga pleura
  • Melakukan tindakan operasi tertentu
  • Menyelidiki efusi pleura
  • Penentuan stadium kanker paru-paru yang terdeteksi sebelumnya


Jika dilakukan sebagai biopsi, tindakan ini digunakan untuk mengumpulkan sampel jaringan dari paru-paru, pleura, atau cairan yang menumpuk pada daerah tersebut. Biopsi sering dibutuhkan ketika adanya massa atau pertumbuhan abnormal yang ditemukan. Sampel jaringan yang didapat dikirim ke laboratorium untuk analisis lebih lanjut agar dapat ditentukan apakah sampel tersebut bersifat ganas atau jinak.

Jika torakoskopi digunakan sebagai metode pengobatan, tindakan ini dapat digunakan untuk melakukan:

  • Operasi laser
  • Pengeluaran nanah atau penumpukan cairan
  • Pleurodesis, atau menyuntikkan obat langsung ke daerah yang terserang
  • Pengangkatan tumor
  • Pengangkatan bula atau kantung yang berisi udara pada paru-paru untuk pengobatan emfisema

Hasil dari torakoskopi akan memberikan pasien dan dokter hasil yang jelas tentang keadaan paru-paru pasien dan mungkin juga mendeteksi penyakit ganas, yang menunjukan adanya kanker paru-paru. Dalam kasus di mana kanker paru-paru terdiagnosis, tindakan dapat diikuti oleh tindakan operasi lainnya dan pengobatan untuk menghilangkan kanker atau bagian paru-paru yang terserang.

Cara Kerja Torakoskopi

Baik torakoskopi dilakukan sebagai tindakan diagnostik maupun terapeutik, tindakan ini didahului oleh tes darah dan urin rutin serta pemindaian sinar-X dada. Setelah dikonfirmasi bahwa tindakan tersebut aman bagi pasien, operasi dimulai dengan dokter bedah dengan membuat sayatan kecil di antara tulang rusuk. Endoskopi, yang merupakan tabung tipis dengan kamera, dimasukkan melalui sayatan kecil; kamera ini mengirimkan gambar bagian dalam tubuh ke komputer. Endoskopi dipandu dengan hati-hati menuju daerah rongga dada sehingga dokter dapat melakukan analisa, biopsy, atau pengobatan, apapun yang diperlukan. Karena hanya sayatan kecil yang dibuat, tindakan laparoskopi lebih fleksibel, sehingga memungkinkan dokter untuk mencapai dan mendapatkan biopsi dari beberapa lokasi yang berbeda daripada hanya salah satu bagian dari rongga pleura.

Dalam kebanyakan kasus di mana operasi laparoskopi rendah risiko dilakukan, tindakan ini dapat dilakukan secara rawat jalan, tanpa perlu dirawat di rumah sakit. Pasien akan mengalami tingkatan rasa sakit pasca operasi yang semakin berkurang, dan akan pulih lebih cepat daripada pasien yang menjalani torakotomi dada terbuka.

Namun, jika operasi torakoskopi dilakukan, pasien mungkin akan diminta untuk tinggal di rumah sakit selama 1-4 hari sampai ia pulih sepenuhnya. Setelah selesai, pasien diberi petunjuk rinci tentang bagaimana melakukan perawatan diri yang tepat. Pasien disarankan untuk:

  • Latihan ringan untuk meningkatkan sirkulasi dan memperkuat otot-otot
  • Hindari aktivitas berat
  • Kembali bekerja jika merasa siap
  • Minum obat nyeri yang diresepkan
  • Mencari perawatan lanjutan

Kemungkinan Risiko dan Komplikasi Torakoskopi

Semua tindakan operasi, bahkan yang rendah risiko, memiliki beberapa risiko, meskipun dengan torakoskopi risikonya tergolong kecil. Selain itu, ketika tindakan endoskopi dilakukan, risikonya akan jauh berkurang. Risikonya meliputi:

  • Reaksi alergi terhadap obat bius yang digunakan
  • Infeksi, yang mungkin terjadi dalam semua tindakan yang memerlukan sayatan kulit
  • Kerusakan organ atau cedera, misalnya perforasi lapisan organ
  • Paru-paru kolaps, atau ketika udara bocor dari paru-paru dan masuk ke dalam rongga pleura
  • Gangguan pernapasan
  • Pendarahan berlebihan
  • Kebocoran udara dari paru-paru
  • Nyeri
  • Mati rasa pada lokasi sayatan
  • Pneumonia
  • Sakit tenggorokan atau ketidaknyamanan saat menelan
  • Aritmia jantung
  • Paru-paru tertusuk
  • Pneumotoraks
  • Emfisema subkutan


Pasien disarankan untuk segera lapor ke dokter jika mengalami:

  • Nyeri dada parah
  • Demam tinggi
  • Muntah atau batuk darah


Meskipun terdapat risiko-risiko ini, torakoskopi memiliki tingkat keamanan yang tinggi dan dapat ditolerir dengan baik oleh sebagian besar pasien, kecuali pasien yang:

  • Menderita gangguan pendarahan
  • Telah menjalani operasi paru-paru sebelumnya
  • Untuk alasan apapun, tidak dapat bernapas menggunakan satu paru, seperti deflasi sebagian atau total paru yang satunya.


Namun, tetap ada risikonya bahwa tindakan ini mungkin tidak cukup sebagai tindakan pengobatan. Dalam kasus tersebut, torakoskopi biasanya diganti dengan torakotomi atau dilanjutkan oleh bronkoskopi.

Rujukan:

  • Tsiouris A, Horst HM, Paone G, Hodari A, Eichenhorn M, Rubinfeld I. Preoperative risk stratification for thoracic surgery using the American College of Surgeons National Surgical Quality Improvement Program data set: Functional status predicts morbidity and mortality. J Surg Res. 2012: epub ahead of print.

  • Wiener-Kronish JP, Shepherd KE, Bapoje SR, Albert RK. Preoperative evaluation. In: Mason RJ, Broaddus C, Martin T, et al, eds. Murray and Nadel's Textbook of Respiratory Medicine. 5th ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier;2010:chap 26.

Bagikan informasi ini: