Pengertian dan Gambaran Umum

Aktif secara seksual memiliki bahaya tersendiri, terutama bila memiliki beberapa pasangan. Salah satu bahaya adalah kemungkinan terjangkit dengan Penyakit Menular Seksual (PMS), seperti gonore, sifilis, atau HIV (Human Immunodeficiency Virus). Beberapa PMS dapat disembuhkan, tetapi sisanya tidak. Tanpa mempertimbangkan sebuah PMS dapat disembuhkan atau tidak, sangatlah penting untuk mendeteksinya pada fase awal agar tidak semakin parah atau menyebar ke orang lain.

PMS adalah penyakit yang dimulai dengan infeksi, sehingga beberapa ahli medis lebih memilih untuk menyebutnya sebagai Infeksi Menular Seksual (IMS). Seperti infeksi-infeksi lainnya, ada cara untuk mendeteksi infeksi PMS ketika masih berada pada fase awal.

Pemeriksaan PMS merujuk pada beberapa metode berbeda untuk mendeteksi infeksi, seperti tes darah, tes sekret vagina, tes feses, dan laparoskopi. Setiap tipe dari PMS memiliki metode deteksi yang berbeda.

Selain gejalanya, PMS juga memengaruhi orang dalam beberapa cara, seperti emosional dan sosial. Sebagai contohnya, apabila sebuah pemeriksaan memberikan hasil positif, orang yang terinfeksi secara moral diharuskan untuk memberitahu kondisi tersebut kepada pasangan seksualnya. Ini dilakukan agar mereka juga dapat mengikuti pemeriksaan PMS dan menerima pengobatan bila diperlukan. Orang-orang dengan PMS dapat merasa ternoda secara sosial, dimana dapat mengarah pada kesulitan secara emosional.

Siapa yang Harus Mengikuti & Hasil yang Diperkirakan

Mereka yang aktif secara seksual dengan beberapa pasangan bukanlah satu-satunya yang perlu mengikuti pemeriksaan PMS. Bila Anda telah terpapar oleh kondisi-kondisi berikut, Anda juga harus mempertimbangkan untuk menjalani pemeriksaan:

  • Anda dipaksa untuk berhubungan seksual
  • Anda adalah seorang pria yang berhubungan dengan pria lain
  • Anda memiliki pasangan baru
  • Anda menggunakan obat-obatan intravena
  • Anda beresiko terkena PMS dan sedang atau akan hamil

Sangat penting untuk mengingat bahwa menjalani pemeriksaan PMS tidak hanya untuk mendeteksi penyakit dan menerima pengobatannya, tetapi juga mencegahnya untuk menyebar. Sebagai tambahan, beberapa infeksi tidak memberikan gejala apapun, di mana hal tersebut menyebabkan banyak orang dengan PMS tidak mengetahui bahwa mereka terinfeksi. Mereka yang tidak tahu bahwa mereka terinfeksi dapat menyebarkan penyakit tanpa mengetahuinya.

Apabila hasil pemeriksaan positif, dokter akan merekomendasikan rencana pengobatan, bahkan bila PMS tersebut tidak dapat disembuhkan. Pada kasus-kasus tersebut, rencana pengobatan akan meliputi cara untuk menghindarkan kondisi yang lebih parah.

Bagaimana Pemeriksaannya Bekerja?

Metode pemeriksaan PMS bergantung pada penyakit yang dicurigai. Bila Anda menunjukkan gejala dari penyakit, dokter akan memutuskan pemeriksaan jenis apa yang harus dilakukan. Bila Anda hanya khawatir bahwa Anda terkena PMS, tetapi tidak menunjukkan gejala apapun, Anda akan menjalani beberapa pemeriksaan berbeda. Berikut adalah pemeriksaan yang paling umum:

  • Gonore & Klamidia – pemeriksaan urin atau usapan bagian dalam penis atau vagina
  • HIV, Hepatitis, Sifilis – tes darah, usapan lesi pada alat kelamin bila ada
  • Herpes Genitalia – tidak ada pemeriksaan yang dapat memberikan hasil akurat, tetapi dokter akan merekomendasikan pemeriksaan darah atau kultur dari lepuhan
  • Human Papillomavirus (HPV) – tes HPV atau Pap

Beberapa orang mengasumsikan bahwa mereka akan diperiksa untuk PMS bila mereka melakukan pemeriksaan lain. Sayangnya, ini tidaklah benar. Anda harus memberitahukan dokter bila Anda menginginkan pemeriksaan PMS. Pemeriksaan darah, tes urin, atau tes Pap tidak dirancang untuk mencari PMS secara spesifik, kecuali sebagai bagian dari pemeriksaan PMS. Anda juga harus mengingat bahwa sangatlah penting untuk jujur kepada dokter atau pemberi pelayanan kesehatan. Jawab segala pertanyaan mereka dengan jujur sehingga dapat menentukan pemeriksaan yang dibutuhkan. Bila Anda tidak jujur dengan jawaban Anda, besar kemungkinan PMS tersebut tidak akan terdeteksi, sehingga dapat memberikan rasa tenang yang salah dan menghindarkan Anda untuk menerima pengobatan yang tepat.

Kemungkinan Komplikasi dan Bahaya

Setiap jenis pemeriksaan PMS aman untuk dilakukan. Sehingga, mereka tidak memiliki bahaya ataupun komplikasi. Namun, terdapat kemungkinan terjadinya hasil positif palsu atau negatif palsu. Bila pemeriksaan menghasilkan bacaan positif, dokter akan memberikan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan hasil tersebut sebelum memberikan rencana pengobatan. Anda juga harus sadar bahwa hasil negatif mungkin saja salah, terutama bila anda memberikan informasi salah kepada dokter atau pemberi layanan kesehatan.

Demikian adalah beberapa bidang dimana Anda harus memberikan informasi yang akurat:

  • Tingkat aktivitas seksual
  • Apabila memiliki beberapa pasangan
  • Apabila sedang meminum obat
  • Alasan mengapa Anda mencurigai PMS, terutama bila Anda mencurigai pasangan Anda mungkin memiliki pasangan seksual lain
  • Apabila Anda berpartisipasi dalam seks anal

Alasan mengapa Anda perlu memberikan informasi akurat adalah karena tidak seluruh PMS dapat dideteksi melalui beberapa pemeriksaan. Sebagai contoh, bila Anda berpartisipasi dalam seks anal, PMS anal mungkin tidak terdeteksi melalui pemeriksaan standar. Bila Anda gagal untuk memberikan informasi ini, Anda dapat beresiko terkena kanker rektum. Bila Anda menginformasikan kepada dokter bahwa Anda melakukan seks anal, dokter akan merekomendasikan pap smear anal yang dapat mendeteksi kanker rektum.

Rujukan:

  • Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). Recommendations on the use of quadrivalent human papillomavirus vaccine in males. MMWR. 2011;60:1705-1708.

  • American Academy of Pediatrics, Committee on Infectious Diseases. Policy Statement: HPV vaccine recommendations. Pediatrics. 2012. DOI: 10.1542/peds.2011-3865.

  • Berman Bm Amini S. Condyloma acuminata. In: Lebwohl MG, Heymann WR, Berth-Jones J, Coulson I. Treatment of Skin Disease: Comprehensive Therapeutic Strategies. 4th ed. Philadelphia, Pa: Elsevier Saunders; 2013:chap 46.

  • Centers for Disease Control and Prevention. Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) Recommended Immunization Schedules for Persons Aged 0 Through 18 Years and Adults Aged 19 Years and Older - United States, 2013. MMWR. 2013;62(Suppl1):1-19.

  • Habif TP. Clinical Dermatology: A Color Guide to Diagnosis and Therapy. 5th ed. Philadelphia, Pa: Elsevier Mosby; 2009:chap 11.

Bagikan informasi ini: