Apa itu Timektomi?

Timektomi adalah prosedur bedah untuk mengangkat timus, yaitu kelenjar dengan bentuk segitiga yang terletak di bagian dada dekat jantung. Kelenjar ini mengeluarkan beberapa hormon dan memiliki peranan penting dalam sistem kekebalan tubuh.

Kelenjar timus memiliki fungsi sebagai waduk bagi sel T yang melindungi tubuh dari patogen. Kelenjar ini sangat aktif di masa kanak-kanak dan mulai menyusut dan tidak lagi berfungsi setelah memasuki masa dewasa.

Pengangkatan kelenjar timus dilakukan sebagai bentuk pengobatan beberapa masalah kesehatan yang disebabkan fungsi abnormal dari kelenjar timus, seperti myasthenia gravis atau saat tumor tumbuh pada kelenjar.

Siapa yang Perlu Menjalani Timektomi & Hasil yang Diharapkan

Timektomi biasanya dilakukan pada pasien yang didiagnosa dengan kondisi myasthenia gravis, yang ditandai dengan melemahnya otot-otot di wajah, leher, lengan, dan kaki. Kondisi ini terjadi karena kelenjar timus menghasilkan antibodi yang menganggu kemampuan otot untuk berkontraksi. Untuk menghindari dampaknya yang melemahkan, pengangkatan kelenjar timus direkomendasikan tapi hanya pada mereka yang berusia di bawah 60 tahun dan hanya jika menunjukan gejala parah yang mengganggu kegiatan harian.

Pengangkatan kelenjar timus juga disarankan bagi mereka yang menderita timoma atau tumbuhnya tumor pada kelenjar timus.

Karena posisinya yang dekat dengan jantung dan paru-paru, timektomi dianggap sebagai pilihan tepat untuk menghindari penyebarannya ke organ lain. Kondisi ini juga dapat menganggu aliran darah, sebab tumor dapat menghimpit pembuluh darah pada organ di sekitarnya. Beberapa penelitian menanggap timektomi adalah pengobatan paling efektif untuk mengobati timoma pada masa gejala awal.

Biasanya hasil dari pengangkatan kelenjar timus adalah posifit terutama bagi pasien usia muda yang sehat. Pasien perlu dirawat beberapa minggu dan disarankan menghindari aktivitas berat setelah prosedur.

Penting untuk dipahami bahwa beberapa pasien merasakan gejalanya makin memburuk setelah prosedur, namun akan membaik setelah beberapa minggu atau bulan. Hasilnya pun jangka panjang, sehingga kualitas hidup pasien meningkat dan dapat melanjutkan aktivitas seperti biasa.

Jika dilakukan untuk mengobati myasthenia gravis, maka tindakan ini dapat mengurangi gejala yang dirasakan pasien. Meskipun begitu, pasien tetap harus mengonsumsi obat untuk menjaga hasil positif yang diterima pasca operasi. Selain itu, pengangkatan kelenjar timus juga meningkatkan kemungkinan mencapai remisi.

Cara Kerja Timektomi

Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk melakukan timektomi. Dokter bedah akan memilih yang terbaik berdasarkan kondisi yang dialami pasien. Salah satu pendekatannya adalah transsternal timektomi di mana dokter bedah akan membuat satu sayatan pada tulang dada. Lalu, alat khusus digunakan untuk membelah tulag dada untuk menemukan dan mengakses kelenjar timus. Yang diangkat bukan hanya kelenjar timus, tapi juga sel lemak yang menumpuk di dada karena dapat mengandung jaring timus dengan potensi tumbuh kembali. Pendekatan ini biasanya dilakukan pada mereka yang didiagnosa menderita timoma.

Dokter bedah juga bisa memilih untuk membuat sayatan di bagian bawah leher dalam prosedur yang disebut transervikal thymectomy. Prosedur ini dikembangkan untuk mengobati myasthenia gravis dan dianjurkan bagi mereka yang tidak memiliki tumor di kelenjar timus. Pendekata ini tidak perlu memotong tulang dada kiri dan kelenjar diangkat menggunakan alat khusus.

Kemajuan terbaru dalam bidang kedokteran telah membuka jalan untuk prosedur timektomi minimal invasif dengan bantuan robot dan timektomi torakoskopi dengan bantu video. Pada prosedur ini dokter bedah perlu membuat sayatan kecil di dada, di mana kamera dan beberapa alat-alat bedah berukuran kecil dimasukkan.

Pada timektomi minimal invasif dengan bantuan robot, dokter menggunakan lengan robot untuk menemukan dan mengangkat kelenjar timus. Kelebihan dari teknik ini antara lain lebih sedikit trauma, mengurangi komplikasi intraoperatif, dan periode pemulihan lebih pendek.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Timektomi

Timektomi dianggap prosedur bedah besar, dengan resiko termasuk perdarahan dan infeksi pasca operasi. Pasien juga bisa menunjukkan reaksi negatif terhadap obat bius yang digunakan. Ada juga kemungkinan melukai organ terdekat, seperti paru-paru dan jantung yang akan menambah komplikasi.

Dokter bedah juga harus memastikan tidak merusak saraf dekat kelenjar timus, karena ini akan melemahkan pasien dan menurunkan kualitas hidup pasien.

Nyeri dada juga akan dirasakan pasien terutama masa awal setelah prosedur hingga beberapa hari setelahnya. Sehingga, pasien memerlukan obat pereda nyeri.

Rujukan:

  • Meriggioli MN, Sanders DB. Disorders of neuromuscular transmission. In: Daroff RB, Fenichel GM, Jankovic J, Mazziotta JC, eds. Bradley’s Neurology in Clinical Practice. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:chap 78.

  • Mittal MK, Wijdicks EFM. Muscular paralysis. In: Parrillo JE, Dellinger RP, eds. Critical Care Medicine: Principles of Diagnosis and Management in the Adult. 4th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2014:chap 64.

Bagikan informasi ini: