Apa itu Trakeostomi?

Trakeostomi adalah prosedur bedah yang dilakukan dengan membuat lubang di saluran udara atau trakea untuk memasukkan tabung yang dapat membantu pasien yang kesulitan bernapas dan mengalami penurunan kadar oksigen yang signifikan atau kegagalan sistem pernapasan.

Trakea adalah tabung berongga dan panjang yang menghubungkan faring dan laring ke paru-paru. Fungsi utama trakea adalah untuk memastikan udara mengalir dengan normal ketika seseorang menghirup atau menghembuskan napas.

Trakea memiliki empat lapisan yang berbeda. Lapisan yang terdalam dinamakan mukosa, yang berfungsi untuk menghentikan benda apapun yang masuk ke saluran pernapasan dan dapat menyebabkan iritasi atau infeksi pada paru-paru. Di atas mukosa terdapat submukosa, di mana pembuluh darah dan saraf dapat ditemukan. Submukosa juga terdiri dari elastin dan kolagen, yang dapat membantu menarik trakea. Di sekitar submukosa terdapat tulang rawan hialin, yang menopang dan melindungi cincin-cincin yang membentuk trakea. Walaupun lentur, tulang ini juga kuat dan dapat mencegah terjadinya kerusakan pada trakea akibat tekanan. Lapisan yang paling atas adalah adventitia, yang berfungsi untuk melekatkan trakea ke jaringan sekitarnya.

Gangguan pada trakea, yang memengaruhi lapisan-lapisan tersebut, dapat menyebabkan komplikasi yang serius, termasuk berkurangnya kadar oksigen ke paru-paru dan kegagalan pernapasan. Untuk mencegah hal tersebut, salah satu pengobatan yang dapat dilakukan adalah trakeostomi.

Trakeostomi dapat direncanakan terlebih dahulu atau dilakukan sebagai tindakan darurat. Ketika telah direncanakan, obat bius total akan digunakan untuk membatasi pergerakan pasien saat menjalani operasi. Namun, dalam situasi darurat, trakeostomi biasanya dilakukan dengan bius lokal dan tabung yang dimasukkan langsung dihubungkan ke alat bantu pernapasan. Trakeostomi yang terencana juga dapat berupa trakeostomi dilatasi perkutan (percutaneous dilation tracheostomy/PDT), yang dilakukan di samping tempat tidur pasien di unit perawatan intensif. Tindakan ini dianggap minim sayatan karena hanya membutuhkan sayatan dan jarum yang kecil.

Jenis tabung yang digunakan tergantung pada tujuan dari trakeostomi. Namun, desain sebuah tabung harus sama dengan tabung lainnya, siapapun produsennya.

Siapa yang Perlu Menjalani Trakeostomi dan Hasil yang Diharapkan

Berikut ini adalah situasi-situasi yang membutuhkan trakeostomi:

  • Adanya benda asing yang menghalangi saluran udara – Hal ini terjadi ketika ada benda atau masa (mis. tumor jinak atau ganas) di trakea, yang dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk bernapas.

  • Adanya komplikasi akibat trauma – Trauma atau cedera pada leher dan punggung bagian atas (mis. akibat kekerasan atau kecelakaan) dapat menghentikan produksi oksigen secara tiba-tiba dan menyebabkan penyumbatan di saluran udara. Luka bakar serius pada leher juga dapat dikategorikan sebagai situasi darurat.

  • Pasien akan atau telah menjalani operasi pada laring atau faring – Trakeostomi dapat dilakukan sebelum operasi untuk memastikan kelancaran aliran oksigen ke tubuh. Tabung trakeostomi juga dapat dipasang ketika organ tubuh masih dalam masa pemulihan.

  • Adanya peradangan trakea – Infeksi pada trakea dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau benda asing yang menyebabkan iritasi pada jaringan. Saat hal tersebut terjadi, saluran udara akan mengalami peradangan, sehingga mempersempit saluran pernapasan.

  • Adanya cedera pada mulut atau hidung – Walaupun hidung adalah organ tubuh yang sering digunakan untuk bernapas, mulut juga dapat digunakan untuk bernapas. Apabila salah satu organ ini mengalami gangguan, tabung trakea dapat memberikan bantuan untuk menjaga kelancaran pernapasan. Apabila keduanya mengalami gangguan, tabung trakea dapat dihubungkan dengan sumber oksigen buatan.

  • Adanya kelainan bawaan – Bayi dapat memiliki susunan trakea yang tidak normal atau gangguan pada sistem pernapasan sejak lahir. Tabung trakeostomi dapat membantu meningkatkan tingkat keselamatan bayi tersebut sampai ia cukup dewasa untuk menjalani operasi.


Tabung juga dibutuhkan untuk:

  • Menghilangkan penimbulan mukus, sekresi, atau cairan di saluran udara
  • Menopang paru-paru atau diafragma yang lemah
  • Membantu pernapasan pasien yang sedang koma
  • Mengobati apnea tidur


Trakeostomi dapat bersifat sementara atau permanen. Tindakan ini juga dapat dilakukan dalam jangka pendek atau panjang, tergantung pada kondisi setiap pasien.

Beberapa pasien kemungkinan akan merasa kesulitan dengan adanya tabung di tubuh mereka. Pasien bisa membutuhkan waktu hingga 3 hari untuk membiasakan diri dan dapat bernapas dengan normal melalui tabung. Pasien juga mungkin harus menjalani terapi untuk membantu mengembalikan kemampuan mereka melakukan aktivitas tertentu, seperti berbicara dan menelan. Pasien juga biasanya akan kehilangan kemampuan berbicara selama beberapa hari setelah operasi.

Cara Kerja Trakeostomi

Apabila trakeostomi telah direncanakan namun bersifat terbuka, pasien akan diberi obat bius total dan obat bius lokal untuk mengurangi rasa sakit di tubuh. Sayatan yang besar akan dibuat di leher, dekat tenggorokan, untuk menjangkau cincin tulang rawan yang melindungi trakea. Ketika lubang telah dibuat, tabung akan dimasukkan melalui lubang tersebut ke saluran udara.

Pada PDT, probe bernama endoskop akan digunakan. Alat ini dilengkapi dengan kamera yang mengirimkan gambar langsung dari trakea ke layar komputer. Endoskop juga dilengkapi dengan cahaya di ujungnya sehingga trakea dapat terlihat lebih jelas. Setelah itu, endoskop akan memberikan panduan pada dokter bedah selama tindakan. PDT juga dilakukan di bawah pengaruh bius total. Namun, tindakan ini tidak disarankan bagi pasien yang mengalami obesitas (kelebihan berat badan), terutama mereka yang memiliki lapisan lemak yang tebal di leher, serta pasien anak yang berusia di bawah 12 tahun.

Pada PDT, sayatan kecil akan dibuat di tenggorokan dan jarum kecil akan digunakan untuk membuat lubang. Lubang tersebut akan digunakan untuk memasukkan tabung ke saluran udara. Ukuran sayatan yang kecil dapat mengurangi risiko pasien terkena infeksi atau cedera akibat operasi. Waktu pemulihan juga akan menjadi lebih singkat.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Trakeostomi

Seperti tindakan operasi lainnya, pasien yang menjalani trakeostomi kemungkinan akan mengalami infeksi, bekas luka, dan pendarahan berat. Pasien juga dapat bereaksi negatif terhadap tabung atau obat yang digunakan. Trakeostomi juga dapat menyebabkan kerusakan pada saraf, yang dapat menyebabkan kelumpuhan.

Rujukan:

  • Goldenberg D, Bhatti N. Management of the impaired airway in the adult. In: Cummings CW, Flint PW, Haughey BH, et al, eds. Otolaryngology: Head & Neck Surgery. 4th ed. Philadelphia, Pa: Mosby Elsevier; 2005:chap 106.
  • Neacy KA. Tracheostomy care. In: Roberts JR, Hedges JR, eds. Clinical Procedures in Emergency Medicine. 5th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier;2009:chap 7.
Bagikan informasi ini: