Apa itu Transcranial Doppler?

Dikenal juga dengan TCD, Transcranial Doppler adalah sebuah tindakan pemeriksaan minim risiko (non-invasif) yang menggunakan gelombang ultrasound untuk mengukur aliran darah di dalam otak.

Otak dianggap sebagai pusat aktifitas tubuh. Walaupun fungsinya saling bergantung dengan organ tubuh lainnya, namun otak mengendalikan banyak aktifitas organ tubuh termasuk aktifitas otot. Sel dan saraf otak yang jumlahnya jutaan terhubung dengan organ lain, sehingga organ tubuh tersebut mampu melakukan kegiatan tertentu yang penting bagi keberlangsungan hidup.

Karena fungsi metaboliknya yang berat, otak membutuhkan paling tidak 20% oksigen yang berasal dari jantung. Otak juga butuh untuk mempertahankan aliran darah yang ideal melalui banyak pembuluh darah. Jika suplai darah terlalu banyak, dapat meningkatkan tekanan di dalam tengkorak (intracranial) yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan. Kerusakan jenis ini juga dapat terjadi, walaupun secara perlahan, jika asupan darah rendah, seperti saat asupan mulai dari 8 sampai 10 milimeter untuk setiap 100 gram per menit.

TCD dapat membantu menilai apakah sebuah kondisi degeneratif, stenosis (sumbatan pada arteri) atau masalah lain mempengaruhi aliran darah. Sebagai sebuah uji pencitraan non-invasif, TCD menggunakan sebuah transduser yang digerakkan ke bagian-bagian yang ada di dalam tengkorak, gelombang ultrasoniknya memantul melalui sel darah merah yang melewati pembuluh darah. Ultrasound dari alat ini tidak menghasilkan gambar namun gelombang suara yang dapat mengukur kecepatan aliran darah. Alat ini bersifat portabel atau mudah dibawa, yang berarti pasien tidak harus meninggalkan tempat tidurnya untuk menjalani tes ini. Pasien juga akan tetap sadar selama menjalani tindakan ini.

Siapa yang Harus Menjalani TCD & Hasil yang Diharapkan

TCD direkomendasikan bagi para pasien yang mengalami:

  • Tingkat kolesterol tinggi – Orang dengan tingkat trigliserida atau kolesterol dalam darah yang meningkat cenderung menderita stenosis karena adanya timbunan plak pada dinding arteri.

  • Penyakit Kardiovaskular- Seseorang yang telah didiagnosis memiliki penyakit kardiovaskular mungkin saja telah mengalami kerusakan arteri yang secara signifikan dapat mempengaruhi asupan darah ke otak.

  • Diabetes- Diabetes dapat menyebabkan kerusakan saraf dan sakit ginjal, yang dapat mengakibatkan peningkatan tekanan darah yang tidak normal. Tekanan darah yang tinggi meningkatkan risiko hipertensi dan stroke.

  • Anemia sel sabit (sickle cell anemia)- Ini merupakan penyakit turunan yang ditandai oleh adanya sel darah yang berbentuk sabit dan bukan berbentuk bundar. Anemia ini mengurangi jumlah sel darah merah yang membawa oksigen. Sel-sel ini juga dapat menyumbat pembuluh darah, yang dapat mengakibatkan asupan darah yang rendah ke otak. Orang yang menderita penyakit ini juga memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami hipertensi paru-paru (tekanan darah yang tinggi di bagian paru-paru) dan stroke.

  • Embolisme- Embolisme terjadi saat emboli (dapat berupa gumpalan darah atau gelembung-gelembung udara, nanah, atau bahan lainnya yang diproduksi oleh bagian tubuh tertentu) mengalir melalui aliran darah dan kemudian menempatkan dirinya di dalam pembuluh darah.

TCD dapat direkomendasikan kepada pasien yang mengalami trauma seperti kecelakaan atau kekerasan (misal. Dipukul dengan benda tumpul). Cidera jenis ini dapat menyebabkan pendarahan atau pendarahan di dalam otak. Jumlah darah yang meningkat akibat pendarahan tersebut dapat meningkatkan tekanan intrakranial.

Terlebih lagi, TCD dapat digunakan untuk memonitor tindakan pembedahan atau untuk menentukan keberhasilan sebuah rencana perawatan pasien tertentu.

Tindakan ini memakan waktu sekitar 25 sampai dengan 30 menit. Alat ini merupakan satu-satunya ultrasound yang menghasilkan suara, yang dapat didengar oleh dokter dan pasien, walaupun gelombang suara itu sendiri tidak dapat didengar.

Cara Kerja TCD

TCD merupakan alat uji pencitraan yang langsung. Biasanya terdiri dari transduser dan sebuah komputer untuk digunakan dokter memonitor kecepatan aliran darah. TCD tidak memerlukan persiapan apapun seperti misalnya berpuasa. Pasien juga dapat tetap menggunakan pakaian biasa atau baju dari RS. Perhiasan juga tidak perlu dilepas, kecuali jika digunakan di bagian wajah.

TCD sering dilakukan di RS dan diawasi oleh seorang ahli radiologi atau ahli saraf terlatih. Pasien dapat berbaring di meja periksa atau meja operasi atau di atas tempat tidur, atau duduk di kursi. Gel yang telah diramu khusus kemudian dioleskan di bagian tertentu pada wajah, seperti di sekitar tulang pipi, kelopak mata, bagian depan telinga, serta tengkuk. Pasien tidak diperbolehkan menggerakkan kepalanya dan berbicara saat tes ini dilakukan. Sebuah transduser digerakkan di bagian wajah pasien lalu mengirimkan umpan balik ke perangkat lunak pada komputer. Umpan balik tersebut membuat dokter mendapatkan informasi aliran darah pada layar komputer. Setelah tes selesai dilakukan, maka gel akan dibersihkan.

Rujukan:

  • Chernecky CC, Berger BJ (2008). Laboratory Tests and Diagnostic Procedures, 5th ed. St. Louis: Saunders.
  • Fischbach FT, Dunning MB III, eds. (2009). Manual of Laboratory and Diagnostic Tests, 8th ed. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins.
  • Pagana KD, Pagana TJ (2010). Mosby’s Manual of Diagnostic and Laboratory Tests, 4th ed. St. Louis: Mosby Elsevier.
  • Roman AS (2013). Late pregnancy complications. In AH DeCherney et al., eds., Current Diagnosis and Treatment Obstetrics & Gynecology, 11th ed., pp. 250–266. New York: McGraw-Hill.
Bagikan informasi ini: