Apa itu Perbaikan Transposisi Arteri Besar?

Transposisi arteri besar (TAB) adalah kelainan jantung bawaan kompleks, sekitar 3-10% pasien yang mengidap penyakit jantung bawaan lahir dengan kondisi ini. Pada kondisi TAB, arteri pulmonalis berada di ventrikel kiri dan aorta berada di ventrikel kanan. Berbeda dengan kondisi normal yang memiliki urutan peredaran darah pulmonal dan sistemik berurutan, sistem peredaran darah pada pasien TAB berupa untaian yang sejajar, yaitu darah tak beroksigen dipompa ke seluruh tubuh tanpa melalui paru-paru, sedangkan darah beroksigen berulang kali mengalir ke paru-paru. Sebuah shunt, yang berupa lubang pada septum atrium atau ventrikel atau hubungan antara aorta dan arteri pulmonalis, akan membuat darah bercampur. Hal ini sangat diperlukan untuk keselamatan jiwa. Efeknya, pasien TAB mengalami sianosis atau bayi biru dan saturasi oksigen yang buruk. Pada akhirnya, pasien pun akan mengalami gejala gagal jantung, seperti kesulitan bernapas, dalam satu bulan.

Dua teknik yang umumnya digunakan dalam memperbaiki kelainan ini adalah operasi pertukaran arteri (arterial switch), yang merupakan prosedur bedah standar untuk memperbaiki transposisi arteri besar, dan operasi pertukaran atrium yang kurang umum digunakan.

Siapa yang Perlu Menjalani Perbaikan Transposisi Arteri Besar dan Hasil yang Diharapkan

Pasien yang mengidap TAB perlu mendapat intervensi medis. Jika kondisi ini dibiarkan, resiko kematian dalam bulan pertama mencapai 50%, sedangkan kematian sebelum mencapai usia satu tahun mencapai 90%.

Intervensi bedah dini sangat direkomendasi bagi bayi yang lahir dengan transposisi arteri besar, bahkan jika bayi baru berusia beberapa hari. Idealnya, prosedur dilakukan pada kandidat yang tepat dalam minggu atau bulan pertama kehidupan bayi, sebelum ventrikel tidak dapat berfungsi efektif sebagai pemompa sistemik. Pada beberapa kasus, perlu dilakukan rangkaian intervensi sebelum operasi perbaikan, semua ini tergantung pada pada anatomi penyakit dan kesehatan pasien secara keseluruhan. Pada pasien dengan saturasi oksigen yang buruk, shunt harus dipelihara atau ditambah melalui infusi prostaglandin yang dikenal sebagai prosedur balloon atrial septostomy atau perobekan sekat serambi.

Perbaikan transposisi arteri besar adalah prosedur yang rumit namun hasilnya semakin membaik dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, banyak studi yang telah membuktikan angka kematian akibat prosedur ini hanya sebesar 2-3%. Resiko operasi yang lebih tinggi dikaitkan dengan anatomi arteri koroner yang rumit dan masalah pada lengkungan aorta. Dalam jangka waktu yang lama, pasien terbukti memiliki ventrikel kiri yang berfungsi sangat baik dibandingkan pasien yang menjalani operasi pertukaran atrium. Angka ketahanan hidup pun sangat baik, laporan menunjukkan sebanyak 80% pasien tetap dapat menjalani hidup dalam 10 tahun pasca operasi.

Cara Kerja Perbaikan Transposisi Arteri Besar

Tujuan dari operasi perbaikan transposisi arteri besar adalah mengubah peredaran darah dan menaksir rute peredaran darah normal. Ada beberapa cara untuk mencapai kedua hal ini, namun saat ini dokter lebih memilih operasi pertukaran arteri.

Landasan pemikiran dari operasi pertukaran arteri adalah perbaikan anatomi kelainan arteri. Arteri pulmonalis dan aorta dibagi dan ditukar ke posisi normal, dimana arteri pulmonalis dihubungkan pada ventrikel kanan dan aorta pada ventrikel kiri. Pada prosedur operasi, shunt yang bekerja mencampur darah akan ditutup sehingga peredaran darah sistemik dan pulmonalis menjadi berurutan.

Salah satu bagian tersulit dan terpenting dari operasi perbaikan ini adalah mengatur arteri koroner, pembuluh darah yang memasok darah ke jantung. Sehingga diperlukan pemotongan pada bukaan arteri koroner dan menanam kembali arteri pada pembuluh darah yang terhubung pada peredaran darah sistemik (neoaorta).

Walaupun hal ini merupakan prinsip dasar dari prosedur perbaikan TAB, namun variasi anatomi pada kelainan memungkinkan kebutuhan akan langkah-langkah lain. Terkadang, pasien TAB dengan anatomi yang lebih rumit memerlukan operasi yang berbeda, seperti prosedur Rastelli.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Perbaikan Transposisi Arteri Besar

Seperti pada berbagai jenis bedah jantung terbuka, perbaikan transposisi arteri besar dikaitkan dengan banyak kemungkinan resiko, termasuk pendarahan, iskemik miokard, dan infeksi. Dibandingkan dengan pasien operasi pertukaran atrium, abnormalitas ritme jantung jarang terjadi pada pasien yang menjalani operasi pertukaran arteri. Kematian dini yang terjadi pada pasien operasi pertukaran arteri seringkali dipicu oleh gangguan pada arteri koroner dan ventrikel kanan yang berhenti berfungsi.

Namun, yang paling sering terjadi adalah kemunculan stenosis atau penyempitan katup pulmonal. Kondisi ini adalah penyebab umum intervensi ulang pasca operasi pertukaran arteri, biasanya terjadi pada sekitar 10% pasien. Beberapa pasien bahkan perlu menjalani operasi ulang, ada pula pasien yang hanya memerlukan prosedur yang lebih tidak invasif, khususnya dilatasi endovaskular. Sangat jarang laporan mengenai kebutuhan operasi ulang yang dipicu oleh kerusakan residual pada septum, penyumbatan pada aorta, dan stenosis arteri koroner.

Rujukan:

  • [Guideline] Wilson W, Taubert KA, Gewitz M, et al. Prevention of infective endocarditis: guidelines from the American Heart Association: a guideline from the American Heart Association Rheumatic Fever, Endocarditis and Kawasaki Disease Committee, Council on Cardiovascular Disease in the Young, and the Council on Clinical Cardiology, Council on Cardiovascular Surgery and Anesthesia, and the Quality of Care and Outcomes Research Interdisciplinary Working Group. J Am Dent Assoc. 2007 Jun. 138(6):739-45, 747-60.

  • Takeuchi D, Nakanishi T, Tomimatsu H, Nakazawa M. Evaluation of Right Ventricular Performance Long After the Atrial Switch Operation for Transposition of the Great Arteries Using the Doppler Tei Index. PediatrCardiol. 2005 Aug 17.

Bagikan informasi ini: