Apa itu Pembalikan Ligasi Tuba?

Ligasi tuba adalah jenis kontrasepsi yang permanen, juga dikenal sebagai sterilisasi wanita. Pada prosedur bedah ini, tuba falopi akan ditutup atau disumbat supaya sel telur tidak dapat keluar dari indung telur (ovarium) dan masuk ke rahim (uterus). Dengan begitu, wanita tidak akan hamil saat berhubungan seksual. Apabila seorang wanita telah menjalani ligasi tuba dan memutuskan untuk memiki anak, tuba falopinya dapat dibuka kembali dengan prosedur pembalikan atau pembatalan ligasi tuba.

Siapa yang Perlu Menjalani Pembalikan Ligasi Tuba dan Hasil yang Diharapkan

Pembalikan ligasi tuba disarankan bagi wanita yang sudah pernah menjalani sterilisasi wanita, namun ingin hamil karena alasan tertentu.

Studi menunjukkan bahwa wanita yang menjalani ligasi tuba pada usia muda, terutama pada usia 30-an, kemungkinan besar akan berubah pikiran karena menyesal atau perubahan kondisinya. Contohnya adalah wanita yang menjalani ligasi tuba karena paksaan dari orang lain atau masalah pernikahan.

Pembalikan ligasi tuba dapat mengembalikan kemampuan hamil seorang wanita. Namun, tidak semua wanita dapat menjalani prosedur ini. Tingkat keberhasilannya juga sangat beragam, tergantung pada jenis dan teknik bedah ligasi tuba yang pertama. Faktor yang dipertimbangkan sebelum melakukan pembalikan ligasi tuba adalah:

  • Usia pasien – Prosedur ini memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi pada wanita berusia 40 tahun ke atas.
  • Panjang tuba falopi – Faktor ini biasanya perlu dipertimbangkan jika tuba falopi dipotong saat ligasi.
  • Teknik yang digunakan pada ligasi tuba – Beberapa jenis prosedur sterilisasi wanita memiliki efek yang permanen.
  • Kesehatan sistem reproduksi wanita – Wanita yang ingin menjalani prosedur ini harus memiliki ovarium, rahim, dan tuba falopi yang sehat.
  • Kapan ligasi tuba dilakukan – Wanita yang langsung menjalani ligasi tuba setelah melahirkan memiliki tingkat kesuksesan yang lebih baik.
  • Prosedur bedah yang pernah dijalani – Prosedur bedah untuk penyakit kandungan, misalnya endometriosis atau penyakit peradangan panggul, dapat menimbulkan jaringan luka, yang dapat mengurangi keefektifan prosedur pembalikan.

Cara Kerja Pembalikan Ligasi Tuba

Pembalikan ligasi tuba merupakan bedah perut besar yang membutuhkan waktu 2-3 jam. Prosedur ini dianggap lebih rumit dibandingkan ligasi tuba dan dapat dilakukan dengan teknik bedah konvensional atau bedah mikro. Apabila menggunakan teknik bedah biasa, pasien perlu menginap hingga tiga hari di rumah sakit. Sedangkan dengan teknik bedah mikro, pasien dapat langsung pulang dalam 2-4 jam setelah pembedahan.

Sebelum pembedahan, pasien perlu menjalani tes rutin seperti tes darah, uji pencitraan. Dokter juga akan memeriksa kondisi ovarium dan panjang tuba falopi dengan histerosalpingografi (HSG), yang dilakukan dengan rontgen dan zat pewarna atau USG dan saline.

Apabila pasien menjalani prosedur pembalikan karena ingin memiliki anak bersama pasangannya, maka perlu dipastikan juga bahwa pasangannya tidak memiliki masalah kesuburan yang dapat menghambat proses kehamilan. Hal ini dapat diketahui dengan tes analisis air mani dan penghitungan sperma.

Pasien akan diberi bius total supaya tertidur selama pembedahan. Dokter bedah memulai pembedahan dengan membuat sayatan di garis kemaluan untuk mengakses tuba falopi. Apabila tuba falopi telah dipotong, dokter bedah akan mengambil pecahan potongan sebelum menyambungkan tuba falopi dengan benang yang dapat diserap tubuh. Apabila tuba falopi ditutup atau disumbat, klip atau cincin akan diambil.

Pada bedah yang menggunakan teknik bedah mikro modern, dokter bedah akan menggunakan laparoskop atau tabung tipis kecil dengan lampu di ujungnya. Alat bedah lainnya akan dipasang di ujung laparoskop. Dengan begitu, dokter bedah hanya perlu membuat sayatan kecil, yang sangat mengurangi pendarahan dan bekas luka.

Selama dua minggu pertama setelah pembedahan, pasien disarankan untuk menghindari aktivitas berat dan hubungan seksual. Seiring berjalannya waktu, pasien dapat kembali beraktivitas seperti biasa.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Pembalikan Ligasi Tuba

Prosedur pembalikan ligasi tuba memiliki resiko tertentu, yaitu:

  • Nyeri pasca-bedah
  • Infeksi
  • Pendarahan
  • Reaksi alergi akibat obat bius
  • Kerusakan pada organ sekitar
  • Timbulnya jaringan luka – Pada kasus langka, jaringan luka dapat tumbuh dan menyumbat tuba falopi.
    Studi menunjukkan bahwa pasien yang menjalani pembalikan ligasi tuba lebih beresiko mengalami kehamilan ektopik, suatu komplikasi serius yang dapat membahayakan nyawa pasien dan harus segera mendapat pertolongan medis.

    Rujukan:

  • Jayakrishnan K., Baheti S. (2011). “Laparoscopic tubal sterilization reversal and fertility outcomes.” J Hum Reprod Sci. 2011 Sep-Dec; 4(3): 125-129. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3276946/

  • Bartz D., Greenberg J. (2008). “Sterilization in the United States.” Rev Obstet Gynecol. 2008 Winter; 1(1):23-32. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2492586/

Bagikan informasi ini: