Apa itu Pemeriksaan Fungsi Paru?

Pemeriksaan fungsi paru, seperti namanya, adalah tes diagnostik yang digunakan untuk memeriksa fungsi paru-paru dan untuk menentukan apakah paru-paru terserang penyakit tertentu. Istilah ini merupakan istilah gabungan yang mengacu pada serangkaian tes yang dilakukan untuk mengukur nilai-nilai yang berbeda, seperti berapa banyak udara yang bisa ditahan paru-paru atau seberapa baik paru-paru memindahkan oksigen dan menyaring karbon dioksida dari darah.

Siapa yang Harus Menjalani Pemeriksaan Fungsi Paru & Hasil yang Diharapkan

Pemeriksaan fungsi paru bermanfaat bagi pasien yang:

  • Didiuga mengalami masalah paru-paru
  • Mengalami gejala yang berhubungan dengan pernapasan (atau mengalami kesulitan bernapas)
  • Menderita kondisi paru-paru dan perlu mengetahui seberapa parah kondisinya
  • Menjalani pengobatan untuk kondisi paru-paru (menilai keefektivitasannya)
  • Akan menjalani bedah dan harus diperiksa fungsi paru-parunya
  • Sering terpapar zat yang menimbulkan potensi berbahaya pada paru-paru

Hasil dari pengujian fungsi paru-paru diharapkan untuk dapat menentukan apakah ada gangguan paru-paru dan di mana letaknya. Tes ini juga dapat memberikan informasi mengenai penyebab gangguan tersebut, serta sifatnya yang sangat penting bagi dokter karena pasien akan melanjutkannya dengan pengobatan.

Cara Kerja Pemeriksaan Fungsi Paru

Metode spesifik tes mungkin berbeda, namun pemeriksaan fungsi paru biasanya melibatkan hal-hal ini:

1. Spirometri – Ini adalah salah satu tes yang paling umum digunakan dan dilakukan dengan membuat pasien bernapas ke corong yang melekat pada spirometer, yaitu perangkat khusus yang dirancang untuk merekam pola pernapasan pasien dan mengubahnya menjadi informasi yang dapat dicetak. Hasilnya disajikan dalam bentuk grafik spirogram. Spirometri dapat mengukur beberapa hal berikut:

  • Kapasitas Vital Paksa (FVC) – jumlah udara yang dapat dihembuskan secara paksa setelah menghirup udara dengan maksimal

  • Volume Ekspirasi Paksa (FEV) – jumlah udara yang dapat dihembuskan secara paksa dalam sekali tarikan napas

  • Aliran Ekspirai Paksa (FEF) – rata-rata laju aliran yang diukur pada pertengahan proses menghembuskan napas; biasanya diukur pada 25% dan pada 75%

  • Tingkat Puncak Aliran Ekspirasi (PEFR) – volume maksimal udara yang dihembuskan ketika seseorang menghembuskannya hingga kapasitas maksimal

  • Volume Tidal (VT) – jumlah udara yang mampu dihirup atau dihembuskan paru-paru dalam siklus pernapasan tunggal yang normal.

  • Volume Menit (MV) – juga dikenal sebagai ventilasi volunteer maksimal atau MVV, jumlah total udara ynag dihembuskan setiap menit

  • Kapasitas Vital (VC) – volume udara paru-paru yang dapat dihembuskan setelah seseorang menhirup sedalam ia bisa; poin ini juga disebut SVC atau kapasitas vital lambat karena pasien diminta menghembuskan napas perlahan

  • Kapasitas Residual Fungsional (FRC) – jumlah udara yang tersisa pada paru-paru setelah menghembuskan napas dengan normal

  • Volume Residual – jumlah udara pada paru-paru setelah menghembuskan seluruh napas

  • Volume Ekspirasi Cadangan – perbedaan antara jumlah udara pada paru-paru setelah mengehembuskan napas normal dan napas dengan kekuatan

  • Total Kapasitas Paru-paru – jumlah total udara paru-paru yang dapat ditahan atau dihirup

2. Tes difusi gas – Tes ini mengukur jumlah gas yang berbeda, termasuk oksigen, yang melewati alveoli atau kantung udara setiap menitnya untuk menentuka apakah tubuh menyerap gas dari darah dengan baik. Ada dua jenis tes difusi gas: tes gas darah arteri dan kapasitas difusi karbon monoksida atau DLCO.

3. Plestimografi tubuh – Tes ini mengukur kapasitas paru-paru total dan volume residu baik sebagai pemeriksaan mandiri maupun untuk memberikan informasi tambahan untuk spirometri.

4. Tantangan pernapasan – Dikenal juga sebagai studi provokasi, tes ini mengukur bagaimana saluran udara merespon alergen umum, atau zat yang biasanya diketahui menyebabkan mengi atau asma. Tes ini dilakukan dengan meminta pasien bernapas secara bertahap sambil meningkatkan jumlah zat tertentu melalui nebulizer. Tes ini diikuti dengan tes spirometri untuk mengukur nilai setelah pasien menghirup zat yang disebutkan.

5. Tes latihan tekanan – Tes ini mengevaluasi efek yang dihasilkan latihan pada paru-paru seseorang. Seperti tantangan inhalasi, tes latihan tekanan atau stress ini didahului dan diikuti oleh spirometri.

6. Tes pencucian napas – Ini adalah tes khusus yang dilakukan pada pasien yang menderita fibrosis kista. Selama pemeriksaan, pasien diminta untuk menghirup udara yang mengandung gas pelacak yang diikuti oleh udara biasa. Pasien kemudian dpantau untuk menentukan berapa banyak gas pelacak yang mampu ia hembuskan. Ini diukur dengan menggunakan LCI atau lung clearance index, yang menghasilkan nilai yang lebih tinggi jika paru-paru tidak cukup menghembuskan gas pelacak. Ini berarti ada masalah dengan paru-paru pasien.

Tes yang berbeda mengukur nilai yang berbeda, dengan pengecualian spirometri, yang dapat mengukur sebagai besar indikator kesehatan paru-paru, namun tidak semuanya. Maka itu, dalam banyak kasus, tes ini dilakukan bersama-sama.

Kemungkinan Komplikasi dan Risiko Pemeriksaan Fungsi Paru

Sebagai rangakaian tes diagnostik, pemeriksaan fungsi paru hanya menimbulkan risiko ringan pada pasien. Karena hasil pemeriksaan bergantung pada kemampuan pasien untuk bernapas normal, dengan paksaan, atau dalam ketika diminta untuk melakukannya, selalu terdapat risiko orang tersebut mungkin tidak melakukan persis seperti yang diminta, dan ini akan menghasilkan hasil yang tidak akurat. Dengan demikian, terdapat beberapa persiapan yang diperlukan untuk mencegah hal ini terjadi. Pasien biasanya diberitahu untuk puasa makanan berat sebelum pemeriksaan sehingga paru-paru dapat sepenuhnya berkembang tanpa dihalangi perut. Hal tersebut juga merupakan alasan mengapa pasien diminta untuk hanya mengenakan pakaian yang longgar saat menjalani pemeriksaan. Merokok dan berolahraga harus dihindari 6 jam sebelum jadwal yang diteteapkan oleh dokter. Demikian juga, minum minuman berkafein tidak diperbolehkan karena kafein dapat membuat saluran udara lebih santai dari biasanya.

Pada pasien dengan masalah gigi juga mungkin terdapat beberapa kesulitan corong spirometer tidak terpasang dengan tepat. Pasien yang memakai gigi palsu disarankan untuk tetap memakainya selama pemeriksaan.

Terdapat juga risiko brokospasme setelah tes inhalasi tantangan, tetapi pasien akan berada di bawah pengawasan ketat oleh spesialis paru-paru setelah tindakan seleasi.

Rujukan:

  • Hegewald MJ, Crapo RO. Pulmonary function testing. In: Mason RJ, Broaddus VC, Martin TR, et al., eds. Murray and Nadel's Textbook of Respiratory Medicine. 5th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2010:chap 24.

  • Reynolds HY. Respiratory structure and function: mechanisms and testing. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Goldman's Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 85.

Bagikan informasi ini: