Apa itu Tilt Table Test?

Tilt table test atau tes kemiringan tegak lurus adalah tes diagnostik dasar yang bertujuan untuk mengetahui penyebab dari tekanan darah rendah postural, atau yang lebih dikenal sebagai pingsan, terutama dalam kasus di mana pasien diduga tidak memiliki penyakit jantung. Tes ini merupakan tindakan yang sederhana, non-invasif, dan tidak membutuhkan peralatan yang canggih.

Cara Kerja Tilt Table Test

Tilt table test seringkali dilakukan oleh teknisi atau perawat yang sudah terlatih, biasanya di laboratorium elektrofisiologi atau rumah sakit atau klinik.

Tes yang sederhana ini dilakukan dengan meminta pasien berbaring di atas sebuah meja selama sekitar 15 menit. Pasien akan ditahan dengan tali pengaman, kemudian meja akan diputar ke atas sampai pasien berada dalam posisi berdiri sambil tetap terikat di meja. Hal ini dilakukan untuk menirukan pergerakan dari posisi berbaring ke posisi berdiri yang vertikal. Setelah itu, pasien akan diminta tetap berdiri selama 45 menit.

Secara keseluruhan, tes ini biasanya membutuhkan waktu sampai 90 menit, apabila kedua tahap tes dilakukan, dan sampai 40 menit, apabila hanya tahap pertama dari tes yang dilakukan.

Selama tes berlangsung, detak jantung dan tekanan darah pasien akan terus diawasi untuk mengevaluasi bagaimana tubuh merespon perubahan posisi yang terjadi. Hal ini dilakukan dengan memasang elektroda pada dada, lengan, dan kaki pasien, serta monitor tekanan darah pada lengan atau jari pasien. Alat-alat tersebut akan dipasang sebelum tes dimulai. Elektroda yang dipasang akan dihubungkan dengan alat EKG atau elektrokardiogram agar detak jantung pasien dapat diawasi, sedangkan alat pengukur tekanan darah dapat digunakan oleh dokter untuk mengawasi tekanan darah pasien selama tes berlangsung.

Apabila ada obat-obatan yang harus diberikan selama tes, maka obat tersebut biasanya akan diberikan melalui infus. Isuprel atau isoproterenol adalah obat yang biasanya diberikan apabila pasien tidak menunjukkan gejala apapun setelah menjalani tes selama 45 menit. Tujuannya adalah untuk menurunkan tekanan darah diastolik pasien, mempercepat detak jantung, dan mengurangi daya tahan pembuluh darah perifer untuk memicu terjadinya vasovagal syncope (pingsan). Apabila pasien tetap sadar, ia akan terus diawasi selama 20 menit sebelum tes diakhiri. Namun, apabila pasien pingsan dalam posisi berdiri, maka meja akan segera dikembalikan ke posisi horisontal. Hal ini merupakan tahap kedua dari tes.

Tilt table test biasanya tidak membutuhkan waktu pemulihan, sehingga pasien dapat langsung kembali beraktivitas seperti biasa setelah tes selesai.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko

Karena bersifat sangat sederhana dan non-invasif, tilt table test tidak berisiko menyebabkan komplikasi yang serius bagi pasien. Sangat jarang terjadi komplikasi selama tes, walaupun ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi. Komplikasi tersebut meliputi:

  • Asistole, yaitu saat detak jantung seseorang berhenti untuk beberapa saat
  • Tekanan darah rendah, yang juga dapat terjadi selama beberapa saat
  • Pingsan berkepanjangan, atau saat pasien tidak langsung kembali sadar setelah dikembalikan ke posisi berbaring

Namun, komplikasi ini akan segera berhenti setelah tes selesai atau langsung berhenti setelah meja dikembalikan ke posisi horisontal.

Selain itu, tidak semua pasien yang menjalani tilt table test akan pingsan saat tes. Ada beberapa pasien yang sama sekali tidak kehilangan kesadaran. Hal ini bukan berarti tes ini tidak efektif. Faktanya, pasien seringkali langsung dikembalikan ke posisi horisontal setelah ada perubahan pada detak jantung dan tekanan darah yang menunjukkan bahwa pasien akan pingsan.

Namun, tilt table test tidak dianggap aman bagi semua pasien. Pasien yang tidak boleh menjalani tilt table test adalah mereka yang tidak dapat berdiri, mengalami patah tulang pada bagian bawah tubuh, memiliki anemia yang parah, atau belum lama ini mengalami stroke atau serangan jantung.

Rujukan:

  • American Heart Association
Bagikan informasi ini: