Apa itu Penggantian Otot Sphincter?

Penggantian otot sphincter adalah prosedur bedah untuk menggantikan otot sphincter urin biologis yang tidak berfungsi dengan yang artifisial. Otot sphincter urin artifisial yang dipasang akan berfungsi seperti sphincter alami, sehingga pasien dapat berkemih dengan normal.

Sphincter urin adalah otot dengan bentuk lingkaran yang bertanggung jawab mengontrol aliran urin. Sphincter yang berfungsi dengan normal dapat mencegah urin bocor dan mengendalikan alirannya hingga ada sinyal dari otak untuk berkemih. Saat kandung kemih penuh, sinyal saraf menginstruksikan sphincter untuk tetap berkontraksi sementara kandung kemih perlu melakukan relaksasi. Saat kandung kemih penuh, sinyal saraf menginstruksikan otot di dinding kandung kemih untuk mengerut sehingga urin dapat keluar melalui uretra. Namun, ada kasus di mana sphincter gagal berfungsi, menyebabkan inkontinensia urin, kondisi yang ditandai dengan kebocoran urin yang tidak terkendali.

Inkontinensia urin akibat malfungsi otot sphincter, yang merupakan kondisi sangat tidak mengenakan. Kondisi ini diklasifikasi menjadi dua kategori:

  • Inkontinensia stres – Ini terkait dengan pengangkatan kelenjar prostat atau bedah prostatektomi radikal (untuk mengobati kanker prostat). Keduanya dapat merusak sphincter atau saraf di sekitarnya yang menyebabkan melemahnya sphincter. Tekanan tambahan seperti batuk, bersin, atau ketegangan dapat memicu kebocoran urin.
  • Inkontinensia total – Kondisi di mana otot sphincter urin tidak lagi bekerja yang menyebabkan kebocoran kandung kemih setiap saat.

Siapa yang Perlu Menjalani Penggantian Otot Sphincter & Hasil yang Diharapkan

Bagian tubuh terpenting pada inkontinensia urin adalah sphincter urin. Saat organ tersebut rusak akibat prosedur tertentu atau usia, inkontinensia dapat terjadi.

Pengobatan utama untuk kondisi ini adalah penggantian otot sphincter dengan otot sphincter artifisial, yang direkomendasikan bagi pasien penderita inkontinensia yang kondisinya tidak dapat lagi diobati dengan prosedur non bedah. Seperti conveens atau selubung dan bantalan inkontinensia.

Prosedur ini relatif cepat dengan tingkat kesuksesan yang tinggi. Namun, sebelum prosedur direkomendasikan ke pasien, dokter akan mengevaluasi apakah inkontinensia yang dialami pasien berhubungan dengan masalah sphincter.

Cara Kerja Penggantian Otot Sphincter

Artifisial sphincter yang digunakan dalam prosedur ini berbentuk seperti balon dan terbuat dari karet silikon. Terdiri dari tiga bagian: reservoir balon, manset, dan pompa. Setelah dinyalakan, cairan di dalam balon mengalir keluar ke manset. Setelah terisi, alat tersebut akan menekan uretra untuk mencegah kebocoran urin. Jika pasien sudah siap untuk berkemih, pompa ditekan agar manset mengendur sehingga urin bisa keluar.

Sebelum pembedahan, ada persiapan yang perlu dilakukan termasuk pemberian antibiotik dan menyarankan pasien untuk tidak mengonsumsi cairan sebelumnya. Lalu, bius total atau spinal akan diberkan pada pasien.

Setelah bius bekerja, sayatan akan dibuat untuk mengakses uretra. Untuk pria, sayatan dibuat di perineum (area di antara anus dan penis) atau skrotum. Untuk wanita, sayatan dibuat di bagian vagina atau abdomen. Dokter bedah akan melakukan perhitungan untuk menentukan ukuran manset dari sphincter prostetik sebelum menempatkannya di sekitar uretra. Reservoir balon akan ditempatkan di dalam abdomen bagian bawah melalui sayatan kecil. Baru, pompa ditempatkan setelahnya. Pada pasien pria, pompa akan ditempatkan di skrotum, sedangkan pada pasien wanita ditempatkan di labia. Setelah ditempatkan, tabung dari manset dan balon reservoir akan disatukan dengan pompa. Dokter bedah akan melakukan pengujian untuk melihat apakah pompa berfungsi dengan benar sebelum sayatan dijahit dan kemudian ditutup dengan perban.

Prosedur memerlukan waktu sejam. Setelah pembedahan kateter Foley akan dipasang sementara untuk mengeluarkan urin, hingga sphincter prostetik dapat digunakan. Obat pereda nyeri dan antibiotik diresepkan untuk mencegah infeksi. Sphincter prostetik tidak akan digunakan hingga 6 – 8 minggu pasca bedah, sebelum area di sekitarnya benar-benar sembuh.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Penggantian Otot Sphincter

Penggantian otot sphincter urin adalah prosedur aman dengan tingkat kesuksesan dan kepuasan yang tinggi. Namun, dalam beberapa kasus, komplikasi dapat terjadi. Di antaranya:

  • Infeksi
  • Sphincter prostetik gagal berfungsi dengan baik
  • Pendarahan
  • Pasien sulit berkemih pasca prosedur
  • Kerusakan uretra, kandung kemih, dan jaringan sekitarnya
  • Memar atau bengkak pada area yang dioperasi
  • Kemungkinan diperlukannya prosedur bedah lain untuk memperbaiki atau mengganti sphincter prostetik

    Rujukan
  • Magera JS Jr, Inman BA, Elliott DS. Does preoperative topical antimicrobial scrub reduce positive surgical site culture rates in men undergoing artificial urinary sphincter placement?. J Urol. 2007 Oct. 178(4 Pt 1):1328-32; discussion 1332.

  • Henry GD, Graham SM, Cleves MA, Simmons CJ, Flynn B. Perineal approach for artificial urinary sphincter implantation appears to control male stress incontinence better than the transscrotal approach. J Urol. 2008 Apr. 179(4):1475-9; discussion 1479.

Bagikan informasi ini: