Apa itu Uroflowmetri?

Uroflowmetri adalah prosedur diagnostik untuk mengukur jumlah air seni dan kecepatan keluarnya air seni, juga disebut sebagai tes pancaran kencing. Prosedur ini digunakan untuk mendiagnosis berbagai gangguan pada saluran kemih, yang gejalanya berupa masalah kencing, seperti kesulitan kencing dan kencing keluar dengan lambat.

Siapa yang Perlu Menjalani Uroflowmetri dan Hasil yang Diharapkan

Uroflowmetri disarankan bagi pasien yang memiliki masalah kencing, misalnya:

  • Air seni keluar dengan sangat pelan, yang dapat menjadi gejala dari penyumbatan kandung kemih parsial
  • Kesulitan memulai atau mempertahankan aliran kencing
  • Retensi urin, atau tidak dapat buang air kecil. Kondisi ini akan menyebabkan pembengkakan dan ketidaknyamanan pada kandung kemih, yang dapat mengakibatkan timbulnya masalah kesehatan serius
  • Semakin sering buang air kecil, atau meningkatnya frekuensi seseorang buang air kecil dalam satu hari
  • Inkontinensia urin, atau tidak dapat menahan buang air kecil
    Masalah buang air kecil biasanya merupakan gejala dari penyakit yang menyerang sistem kemih, yaitu:

  • Kanker kandung kemih

  • Kanker prostat
  • Penyumbatan saluran kemih – Segala jenis penyumbatan saluran kemih dapat menutup tabung yang dilewati urin, sehingga memperlambat aliran urin. Apabila sudah parah, urin dapat berhenti mengalir sepenuhnya. Penyumbatan ini seringkali terjadi karena tumor, pertumbuhan jinak, dan jaringan luka.
  • Infeksi saluran kemih berulang – Ini adalah infeksi pada bagian saluran kemih, misalnya ginjal, kandung kemih, uretra, dan ureter.
  • Disfungsi kandung kemih neurogenik – Kondisi yang ditandai dengan ketidakmampuan mengendalikan kandung kemih karena gangguan pada otak, sumsum tulang belakang, atau struktur neuromuskular pada saluran kemih bawah
  • Pembesaran kelenjar prostat atau hiperplasia prostat jinak
  • Hipertrofi prostat jinak
  • Melemahnya otot di kandung kemih
    Masalah buang air kecil juga dapat dipicu atau diperparah oleh kondisi atau gangguan kesehatan lainnya, termasuk:

  • Gangguan sistem saraf

  • Komplikasi bedah
  • Obat tertentu, misalnya obat pilek, obat anti alergi, antidepresan trisiklik, serta jenis vitamin dan suplemen tertentu

Cara Kerja Uroflowmetri

Pada hari pelaksanaan prosedur, pasien diminta untuk buang air kecil di toilet yang dilengkapi dengan alat pengukur bernama uroflowmeter elektronik. Pasien harus buang air kecil seperti biasa, tanpa berusaha memperlambat atau mempercepat keluarnya air seni. Secara otomatis, alat ini akan mengukur hal-hal berikut:

  • Jumlah urin yang dikeluarkan
  • Kecepatan keluarnya urin (per detik)
  • Waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan seluruh isi kandung kemih
  • Tingkat keparahan obstruksi kandung kemih, jika diduga terjadi penyumbatan
    Kemudian, hasilnya akan dibandingkan dengan standar aliran kemih normal, yang ditentukan berdasarkan usia dan jenis kelamin.

Apabila pasien memiliki hasil yang di bawah standar normal, berarti dipastikan pasien memiliki masalah buang air kecil. Lalu, dokter akan menggunakan hasil tes, faktor dan tes lain, untuk memberikan diagnosis dan rencana pengobatan.

Pada beberapa kasus, uroflowmetri dilakukan sebelum dan setelah pengobatan untuk menilai keefektifan pengobatan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Uroflowmetri

Pada tes ini, pasien hanya perlu buang air kecil seperti biasa, sehingga tidak ada resiko dan komplikasi yang dapat terjadi. Pasien juga tidak akan mengalami ketidaknyamanan selama prosedur.
Rujukan

  • Singla S., Garg R., Singla A. et al. “Experience with uroflowmetry in evaluation of lower urinary tract symptoms in patients with benign prostatic hyperplasia.” J Clin Diagn Res. 2014 Apr;8(4). http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4064883/
Bagikan informasi ini: