Apa itu Penanganan Gangguan Kandung Kemih dan Usus?

Penanganan penyakit kandung kemih dan usus besar merupakan beragam pendekatan yang dilakukan untuk mengobati disfungsi yang berkaitan dengan sistem pembuangan. Selain kandung kemih, ginjal juga merupakan bagian dari sistem urin yang bertugas untuk menyaring limbah dan sisa lainnya, yang diambil melalui aliran darah yang sedang melalui ginjal. Setelah disaring, limbah, air berlebih, dan garam, bersatu menjadi urin. Kemudian, urin berpindah ke ureter lalu ke kandung kemih, yaitu organ mirip kantung yang mengumpulkan cairan kekuningan. Di bawah kandung kemih terdapat otot sfingter yang menutup kandung kemih untuk memastikan tidak adanya kebocoran urin tiba-tiba. Kandung kemih menahan urin hingga penuh. Ketika terasa penuh, saraf pada kandung kemih mengirimkan pesan ke otak untuk mengeluarkan urin, yang kemudian dikeluarkan melalui uretra.

Di sisi lain, usus di sini mengacu pada usus besar dan usus kecil. Usus merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pencernaan dan merupakan bagian akhir dari proses pencernaan makanan. Setelah dicerna oleh perut, makanan bergerak ke usus kecil di mana sari-sari makanan disebarkan ke dalam aliran darah untuk berbagai sel tubuh. Kemudian, sisa dari nutrisi dan sari-sari makanan diubah menjadi feses (tinja), yang bergerak ke usus besar dan dikeluarkan dari tubuh melalui rektum dan anus.

Disfungsi usus atau kandung kemih dapat menyebabkan berbagai masalah termasuk inkontinensia yang merupakan kondisi hilangnya kontrol untuk mengeluarkan tinja dan urin. Biasanya kondisi ini ditandai dengan keluarnyanya limbah secara tiba-tiba dan tanpa disadari. Namun, kondisi ini bisa juga mengarcu pada keinginan untuk buang air kecil atau air besar terus-terusan dan kesulitan untuk menahannya. Terdapat berbagai jenis tindakan intervensi yang dapat dilakukan untuk membuat kondisi ini lebih mudah untuk ditangani pasien.

Siapa yang Perlu Menjalani Penanganan Gangguan Kanker Hati dan Usus

Penanganan disfungsi kandung kemih dan usus dapat dianjurkan bagi pasien berikut:

  • Pasien lansia – Kemampuan pasien lansis untuk menahan pergerakan dan urin semakin berkurang seiring bertambahnya usia, terutama pasien yang berusia lebih dari 70 tahun. Bahkan, masalah ini sering menjadi salah satu penyebab utama pasien lansia menjalani perawatan lansia jangka panjang.
  • Pasien dengan penyakit inkontinensia
  • Pasien dengan penyakit degeneratif seperti penyakit Alzheimer
  • Pasien dengan cedera tulang belakang atau otak – Sistem saraf memiliki peran penting dalam menghubungkan otak dan organ lainnya, termasuk fungsi dari organ tubuh. Saraf berfungsi sebagai media pengirim pesan, dan jika saraf rusak, pesan ini akan terganggu. Misalnya, otak mungkin mengirimkan kesan untuk buang air kecil meskipun kantung kemih belum penuh, atau saraf pada kandung kemih menjadi sangat sensitif.

  • Pasien yang telah sembuh dari stroke – Stroke muncul ketika sebagian otak kekurangan pasokan oksigen yang cukup, sehingga menyebabkan sel otak mati. Kebanyakan pasien yang menderita stroke biasanya kehilangan kemampuan mereka untuk mengendalikan bagian tubuh tertentu termasuk proses pembuangannya.

  • Pasien lumpuh – Kondisi ini merujuk pada pasien yang berbaring di tempat tidur karena sakit, cedera, koma, atau lumpuh, serta pasien pria dan wanita yang menggunakan kursi roda atau membutuhkan bantuan untuk menuntunnya ke tempat buang air kecil maupun besar. Bagi siapa saja yang menderita disfungsi usus dan kandung kemih, masalah gangguan tersebut dapat menjadi penyebab penderitanya merasa malu dan mengurangi kualitas hidupnya. Oleh karena itu, pendekatan penanganan gangguan ini dapat membuat pasien lebih percaya diri, sehingga dapat meningkatkan hidup pasien dan membuat pasien menjadi lebih lapang dada menghadapi penyakitnya.

Cara Kerja Penanganan Gangguan Kantung Kemih dan Usus

  • Diagnosis akurat – Diagnosis perlu dilakukan secara akurat agar pengobatan dapat bekerja. Saat melakukan diagnosis, pasien menjalani serangkaian pemeriksaan untuk menentukan penyebab penyakitnya.
  • Operasi – Operasi kemungkinan dianjurkan jika terdapat hal yang menghalangi seperti tumor maupun kista pada kandung kemih atau usus. Beberapa pemeriksaan diagnostik seperti kolonoskopi dapat mencakup pengangkatan polip yang dapat menyebabkan gangguan. Kemudian, tumor yang diangkat dikirim ke laboratorium untuk pengujian lebih lanjut, tujuan utamanya adalah untuk menentukan apakah tumor tersebut bersifat ganas atau jinak.
  • Akses ke toilet yang lebih baik – Pasien sebaiknya diberikan ruangan yang dekat dengan toilet atau dapat diberikan toilet tambahan di ruangannya. Selain itu, membuat pasien lebih mudah bergerak dengan walker maupun kursi roda dan melengkapi toilet dengan pegangan genggam yang dapat membuat pasien berdiri maupun duduk juga dapat dilakukan.
  • Latihan – Terkadang gangguan berasal dari lemahnya dasar panggul atau otot sfingter, yang dapat ditangani dengan melakukan latihan otot. Namun, jika kondisi sudah parah, operasi mungkin menjadi pilihan terbaik kedua.
  • Menurunkan tekanan perut – Tekanan perut yang intens dapat menyebabkan tekanan inkontinensia. Solusinya dapat termasuk pengurangan berat badan berlebih (atau pengelolaan berat badan), serta penanganan penyakit yang dapat menyebabkan penekanan perut termasuk batuk-batuk.
  • Tinjauan pengobatan pasien – Pengobatan tertentu mungkin memiliki efek samping yang mengganggu fungsi kandung kemih dan usus. Tinjauan obat ini dapat memastikan pasien untuk mengatasi kemungkinan efek samping sambil meningkatkan manfaat dari obat yang digunakan.

    Kemungkinan Komplikasi dan Resiko dari Penanganan Gangguan Kandung Kemih dan Usus

Tidak ada rencana standar penanganan bagi pasien gangguan kandung kemih dan usus. Sederhananya, penanganan ini harus disesuaikan dengan kondisi, gangguan, umur, gaya hidup, dan riwayat kesehatan pasien. Ini berarti beberapa penanganan ini mungkin tidak dapat dilakukan. Sebagai contohnya, pasien yang sangat tua mungkin tidak lagi mendapatkan manfaat dari operasi, di mana resikonya mungkin lebih besar daripada manfaatnya. Lebih jauh lagi, rencana penanganan awal kemungkinan tidak akan bekerja. Pasien dapat merasa frustasi atau tertekan karena situasinya. Untuk itu, penyedia layanan kesehatan dan pasien harus bekerja sama untuk memantau efek samping penanganan yang dilakukan. Hal ini dapat membantu pasien untuk mengubah rencana segera sebelum gangguan pasien menjadi lebih buruk.

Rujukan:

  • Cohan ME, Pikna JK, Duecy E. Urinary incontinence. In: Duthie EH, Katz PR, Malone ML, eds. Practice of Geriatrics. 4th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2007:chap 16.

  • Minaker KL. Common clinical sequaelae of aging. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Goldman's Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 24.

  • Patel SR, Wiggins J. Renal and electrolyte disorders. In: Duthie EH, Katz PR, Malone ML, eds. Practice of Geriatrics. 4th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2007:chap 44.

  • Smith PP, Kuche GA. Aging of the urinary tract. In: Fillit HM, Rockwood K, Woodhouse K, eds. Brocklehurst's Textbook of Geriatric Medicine and Gerontology. 7th ed. Philadelphia PA: Elsevier Saunders; 2010:chap 18.

Bagikan informasi ini: