Apa itu Vaksin Anak?

Vaksin diberikan pada waktu yang berbeda dalam siklus kehidupan. Vaksin yang diberikan kepada bayi dan anak-anak disebut vaksin anak.

Vaksinasi adalah bagian tak terpisahkan dari imunisasi, yaitu suatu proses di mana tubuh dibuat kebal terhadap berbagai agen penyebab penyakit seperti bakteri dan virus.

Menurut UNICEF, imunisasi telah membuat polio hilang hampir sepenuhnya dan memberantas virus cacar. Meskipun campak masih sangat sering terjadi, pemberian vaksin telah menurunkan tingkat kematian di kalangan anak-anak hingga 71% di seluruh dunia. Dalam laporan statistik lainnya, vaksinasi telah membantu menyelamatkan lebih dari 2 juta nyawa anak-anak. Vaksin juga secara luas mengurangi jumlah kasus difteri, gondok, rubella, pertussis, dan tetanus dari 98% hingga 100% di Amerika Serikat.

Vaksin tersedia dalam beragam bentuk. Vaksin dapat dinon-aktifkan, hidup, berbentuk DNA, konjugasi, toksoid, rekombinan, dan sub unit. Salah satu jenis yang paling umum adalah vaksin inaktif, yang berarti virus atau bakteri telah dibunuh sebelum disuntikkan ke dalam tubuh. Vaksin ini berbeda dengan vaksin hidup di mana digunakan virus atau bakteri lemah lah yang digunakan.

Dalam beberapa kasus, dokter ahli memanfaatkan bagian dari virus atau bakteri untuk membuat vaksin subnut serta toksoid (jika masalah muncul akibat racun yang disekresikan oleh mikroba) dan konjugasi (yang menghilangkan pelindung mikroba yang membantu mereka melindungi diri dari sistem kekebalan tubuh). Sedangkan vaksin DNA dan rekombinan masih dalam tahap percobaan.

Siapa yang Harus Diberikan Vaksin Anak dan Hasil yang Diharapkan

Vaksin anak diberikan kepada anak-anak yang berumur 0-6 tahun. Anak-anak yang belum menerima vaksinasi apapun harus mendapatkan imunisasi yang diperlukan sesegera mungkin.

Beberapa vaksin diberikan hanya sekali, meskipun sebagian besar perlu diulang pada waktu tertentu. Vaksin ini juga diberikan dalam dosis terpisah yang berjarak beberapa minggu atau bulan. Langkah ini untuk memastikan perlindungan jangka panjang terhadap penyebab penyakit.

Vaksin tidak menjamin kekebalan seratus persen. Sebagai contohnya, anak yang telah menerima vaksin influenza tahunan atau terbaru masih bisa terserang penyakit tersebut. Vaksin hanya meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Dengan cara ini, obat dan intervensi lain yang diperlukan untuk menghilangkan penyakit dapat bekerja dengan lebih efektif.

Cara Kerja Vaksin Anak

Berdasarkan jadwal pemberian yang disediakan oleh Center for Disease Control and Prevention (CDC), bayi yang baru lahir harus menerima vaksin hepatitis B. Idealnya, vaksin harus diberikan antara satu hingga dua bulan lalu kemudian antara 6 hingga 8 bulan.

Vaksin rubella dan vaksin terhadap difteri, tetanus, pertussis disuntikkan pada bulan kedua, keempat, dan keenam. Vaksin yang terakhir diberikan lagi ketika bayi telah mencapai usia 15-18 bulan, lalu 4-6 tahun.

Sementara itu, vaksin terhadap Haemophilius Influenza tipe B diberikan empat kali: umur 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan antara 12 dan 15 bulan. Vaksin pneumokokus, yang dikonjugasi, mengikuti jadval yang sama dengan vaksin influenza tipe B.

Untuk vaksin polio, perlu diberikan saat bayi berumur 2, 4, dan 6 bulan, serta antara 12 dan 15 bulan. Vaksin anak terakhir untuk polio diberikan saat anak berusia antara 4-6 tahun. Vaksin hepatitis A diberikan antara tahun pertama anak dan 23 bulan. Setelah 6-18 bulan, vaksin hepatitis A akan diberikan lagi. Vaksin varicella diberikan saat 12 sampai 15 bulan, serta antara 4-6 tahun.

Vaksin terhadap influenza diberikan setiap tahun. Vaksinasi akan diberikan dalam 2 dosis, yang diberikan dalam satu bulan terpisah.

Vaksinasi merupakan upaya untuk masyarakat. Tanggung jawab terbesar terletak pada kedua orang tua dan dokter anak. Pada saat bayi lahir dan selama vaksinasinya, orang tua diberikan buku yang digunakan untuk mengetahui jadwal. Orang tua dapat membawa anak mereka ke pusat kesehatan setempat atau klinik dokter mereka.

Sementara itu, banyak sekolah yang saat ini membutuhkan atau mendorong siswa untuk mendapatkan vaksin lengkap atau terbaru sebelum masuk kelas.

Kemungkinan Risiko dan Komplikasi Vaksin Anak

Sebagian besar efek samping dari vaksinasi anak bersifat ringan. Termasuk demam ringan dan kemerahan atau nyeri di tempat suntikan. Demam dapat terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menghasilkan antibodi yang diperlukan untuk melawan mikroba. Namun, pada beberapa orang, vaksinasi menunjukan reaksi yang lebih buruk seperti reaksi alergi parah. Terdapat kasus terlapor mengenai efek samping saraf. Namun, kasus-kasus ini sangat jarang terjadi.

Salah satu perdebatan terbesar mengenai vaksinasi pada anak adalah hubungannya dengan autism. Setidaknya 1 dari 68 anak di Amerika Serikat didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme, yaitu gangguan mental yang ditandai dengan ketidakmampuan seseorang untuk berkomunikasi dan membangun hubungan dengan orang lain.

Beberapa tanda dan gejala umum gangguan termasuk ketidakresponsifan terhadap suara keras, ketidakmampuan untuk melakukan kontak mata, kecenderungan untuk menyerang atau membuat ulah, kesulitan dalam menunjukan kasih sayang, dan ketidakmampuan untuk mempelajarai kata-kata atau tindakan tidak seperti halnya anak-anak lain seusianya.

Sejumlah ahli menunjukan adanya bukti yang memperlihatkan hubungan antara autisme dan vaksin, terutama karena gejala pertama muncul pada usia 2 bulan, saat sebagian besar vaksin anak penting pertama kali diberikan. Mereka juga mempertimbangkan peningkatan proporsi langsung dari kedua vaksin yang diberikan dan kasus autisme yang didiagnosis.

Di sisi lain, mereka yang menemukan vaksin mengutip bahwa tidak terdapat bukti nyata atau kuat efek vaksin pada autisme. Jika terdapat penelitian, analisis sering dibatasi untuk diterima sepenuhnya oleh komunitas ilimiah. Lebih lanjut lagi, para ahli lain percaya bahwa manfaat vaksin masih jauh lebih besar daripada kemungkinan risiko dan komplikasi dari vaksinasi.

Rujukan:

  • http://www.cdc.gov/vaccines/schedules/
  • http://www.vaccines.gov/more_info/features/five-important-reasons-to-vaccinate-your-child.html
Bagikan informasi ini: