Apa itu Vasektomi?

Vasektomi adalah prosedur bedah untuk memotong vas deferens pria agar sperma tidak bisa memasuki air mani dan mencegah ejakulasi saat melakukan hubungan seksual.

Sperma yang diproduksi oleh testis, sepasang struktur berbentuk oval yang dilindungi oleh skrotum di bagian belakang penis. Kemudian, sperma berenang di sepanjang epididimis hingga ke tabung panjang yang bernama vas deferens. Sperma yang mencapai kantung semen dan saluran ejakulasi, akan bercampur dengan cairan semen dan menjadi air mani. Saat berhubungan seksual, air mani membawa sperma ke dalam sistem reproduksi wanita hingga mencapai dan membuahi sel telur.

Memotong vas deferens adalah metode kontrasepsi yang paling efektif karena sperma tidak akan keluar bersama air mani. Prosedur ini tidak akan memengaruhi produksi sperma di dalam testis, sperma tidak akan bisa bercampur dengan air mani, melainkan diserap oleh tubuh. Beberapa dokter akan menyarankan untuk membekukan sperma bila pasien masih ingin bereproduksi setelah menjalani vasektomi.

Siapa yang Perlu Menjalani Vasektomi dan Hasil yang Diharapkan

Vasektomi dianjurkan bagi pria yang tidak ingin memiliki anak. Ini merupakan metode kontrasepsi permanen. Sehingga pasien, meskipun telah dianggap sebagai kandidat ideal, tetap disarankan untuk menjalani konsultasi terlebih dahulu sebelum membuat keputusan. Hal ini dilakukan untuk menghindari penyesalan di masa depan. Lebih baik lagi, jika pria yang masih berusia muda menunggu selama beberapa tahun sebelum memutuskan untuk menjalani vasektomi.

Vasektomi merupakan prosedur dengan tingkat keberhasilan dan kepuasan yang tinggi, kemungkinan pasien membuahi sel telur kurang dari 1%. Penting untuk diketahui bahwa vasektomi tidak langsung bekerja, sebab ini tidak menghilangkan sisa sperma di dalam saluran ejakulasi. Pasien perlu menggunakan metode kontrasepsi alternatif, seperti kondom, untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, hingga hasil analisa sperma menyatakan bahwa air mani sudah bebas sperma.

Setelah menjalani prosedur ini, biasanya area kemaluan pasien menjadi mati rasa. Oleh karena itu, pasien akan diberi resep obat-obatan pereda nyeri untuk mengobati efek samping. Selain itu, pasien juga menerima antibiotik untuk mencegah infeksi. Dokter juga menganjurkan pasien untuk menggunakan celana boxer atau celana dalam ketat untuk menopang skrotum selama proses pemulihan. Pasien boleh melanjutkan aktivitas harian, termasuk hubungan seksual dalam beberapa hari pasca operasi.

Ada beberapa kasus di mana pasien menyesal karena telah melakukan vasektomi. Untuk itu, pasien dapat menjalani prosedur pembalikan vasektomi, yang jauh lebih rumit dibanding vasektomi dan tidak dapat 100% mengembalikan kesuburan pria.

Cara Kerja Vasektomi

Prosedur vasektomi memiliki dua teknik yang dipilih berdasarkan rekomendasi dokter dan kondisi khusus pasien. Kedua teknik vasektomi memerlukan pemisahan dan pembagian vas deferens. Selain itu, manajemen operasi untuk ujung vasal serta pembiusan lokal di area skrotum perlu dilaksanakan. Sehingga prosedur tidak menimbulkan rasa sakit dan pasien akan merasa nyaman.

Teknik pertama adalah metode konvensional yang dilakukan dengan membuat sayatan kecil di setiap sisi skrotum untuk menemukan vas deferens. Kemudian, dokter memotong saluran dengan cara mengangkat sebagian kecil saluran sebelum membakar dan mengikat vas deferens. Terakhir, sayatan akan ditutup dengan jahitan.

Metode kedua memiliki tujuan yang sama, namun dilakukan tanpa melakukan sayatan. Sebuah jarum yang sangat tajam akan ditusukkan pada sktorum untuk memasukkan penjepit kecil yang berujung tajam yang berfungsi menemukan vas deferens. Kemudian, saluran vas deferens akan dipotong dan diikat. Prosedur ini tidak memerlukan jahitan untuk menutup luka tusukan.

Pada kasus tertentu, dokter akan menggunakan penyumbat berbahan silikon lunak atau polyurethane untuk memblokir vas deferens. Saluran ini tidak akan dipotong dan akan tetap utuh.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Vasektomi

Vasektomi termasuk prosedur yang aman dan sederhana. Namun, seperti prosedur medis lainnya, selalu ada resiko dan kemungkinan komplikasi, termasuk:

  • Pendarahan pada skrotum, yang bisa terjadi segera setelah operasi
  • Hematoma, atau penumpukan darah di area sayatan operasi
  • Infeksi
  • Sindrom nyeri pasca vasektomi, kondisi kronis yang ditandai dengan nyeri yang menetap di bagian epididimis
  • Nyeri saat terangsang, berhubungan seksual, dan ejakulasi
  • Afasia progresif primer, salah satu jenis demensia yang disebabkan oleh vasektomi
  • Kegagalan vasektomi, di mana ujung vas deferens yang terpotong akan tersambung kembali, sehingga sperma dapat bersatu dengan air mani dan menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan
    Meskipun jarang, beberapa pasien ada yang menyesali keputusannya menjalani vasektomi. Ini biasanya didasari oleh keinginan pasien untuk memiliki anak dengan pasangan yang baru, setelah sebelumnya mengalami kegagalan dalam sebuah hubungan, kematian salah satu atau beberapa anak, dan peningkatan keuangan, yang artinya pasien mampu membiayai lebih banyak anak. Semua ini dapat mengguncang kesehatan jiwa pasien dan berdampak buruk pada hubungannya dengan pasangan. Karena hal ini, pasien disarankan untuk membekukan sperma sebelum menjalani vasektomi. Pasien yang memilih untuk melewati pembekuan sperma, bisa menjalani prosedur pembalikan vasektomi.

    Rujukan

  • Roncari D, Jou MY (2011). Female and male sterilization. In RA Hatcher, et al., eds., Contraceptive Technology, 20th rev. ed., pp. 435–482. New York: Ardent Media.

  • Trussell J, Guthrie KA (2011). Choosing a contraceptive: Efficacy, safety, and personal considerations. In RA Hatcher et al., eds., Contraceptive Technology, 20th ed., pp. 45–74. Atlanta: Ardent Media.

Bagikan informasi ini: