Apa itu Ventrikulostomi?

Ventrikulostomi atau pengeringan ventrikular adalah prosedur bedah singkat pada bagian kepala untuk menyisipkan alat yang berfungsi menyerap cairan serebrospinal yang menumpuk di dalam otak. Alat ini dapat dipasang dari luar untuk sementara atau permananen.

Ventrikulostomi dilakukan pada bagian ventrikel otak, yaitu kumpulan rongga di mana cairan serebrospinal ditampung. Karena hal-hal tertentu, ventrikel dapat terhambat atau mengandung terlalu banyak cairan serebrospinal dan membuat tekanan intrakranial meningkat. Alat yang digunakan pada prosedur ventrikulostomi akan dibiarkan terpasang hingga tekanan kranial kembali normal.

Siapa yang Perlu Menjalani Ventrikulostomi dan Hasil yang Diharapkan

Ventrikulostomi direkomendasi bagi pasien yang mengalami penumpukan cairan serebrospinal di dalam otak. Cairan serebrospinal adalah fluida yang berada di sistem saraf pusat (otak dan tulang belakang) dan berperan sebagai pelindung tambahan bagi korteks otak. Setelah dilepaskan, cairan ini seharusnya diserap ke dalam aliran darah, untuk mempertahankan tekanan kranial yang ideal.

Penumpukan cairan serebrospinal disebabkan oleh beberapa kondisi, termasuk hidrosefalus yaitu istilah yang digunakan saat kondisi jarak antar ventrikel melebar dan hanya menyisakan sedikit ruang bagi cairan untuk mengalir atau diserap kembali. Gejala yang terlihat dari kondisi ini adalah kepala yang tampak membesar.

Hidrosefalus adalah kondisi genetik atau didapat. Hidrosefalus genetik terjadi saat masa perkembangan janin, sedangkan kondisi hidrosefalus yang didapat biasanya berkembang setelah bayi lahir. Prosedur khusus yang dilakukan untuk menangani kondisi ini, disebut ventrikulostomi ketiga dengan endoskopi.

Tekanan intrakranial dapat dipicu oleh cedera otak traumatik. Kondisi ini bersifat gawat darurat, karena tekanan intrakranial bertambah dengan cepat, sehingga meningkatkan resiko kerusakan jaringan otak permanen.

Ventrikulostomi dapat dilakukan untuk memasukan obat-obatan untuk menangani gangguan otak atau pada ventrikel. Prosedur ini dapat dimanfaatkan untuk mendiagnosis cairan serebrospinal , yang akan mengenali infeksi atau penyakit lainnya yang menimbulkan gejala neurologis.

Tekanan pada otak diharapkan akan segera menurun dan kembali normal setelah kateter ventrikular dipasang.

Cara Kerja Ventrikulostomi

Sebelum prosedur dimulai, dokter bedah saraf akan mengadakan konsultasi pra-bedah, dimana ia akan mengevaluasi kesehatan neurologis dan fisik pasien secara keseluruhan. Jika pasien sedang menjalani pengobatan, maka ia perlu berhenti mengkonsumsi obat-obatan, khususnya yang memicu kekurangan atau pembekuan darah selama dan setelah operasi.

Umumnya, prosedur berlangsung selama satu jam dan tidak harus menggunakan bius total. Bius lokal sudah cukup disuntikkan pada bagian kulit kepala tempat pembuatan lubang. Pasien juga dapat diberi zat sedatif agak ia merasa benar-benar nyaman.

Selama prosedur berjalan, pasien terbaring terlentang di atas meja operasi. Sebagian kepala dicukur botak dan dibersihkan, sedangkan sebagian lainnya ditutup. Dokter bedah akan membuat lubang di kepala dengan menggunakan alat bor bedah untuk mengakses durameter. Bagi kondisi tertentu, prosedur ini sudah cukup untuk memperbaiki tekanan kranial. Namun, jika ventrikulostomi perlu dilanjutkan, maka sebuah tabung akan disisipkan langsung pada ventrikel dan sebuah kantung dihubungkan tabung. Pasien sendiri akan terhubung dengan sistem yang memantau kadar cairan serebrospinal dan tekanan otak.

Apabila tabung hanya digunakan untuk sementara, maka prosedur disebut pengeringan ventrikuler eksternal (EVD). Jika digunakan selamanya, prosedur dikenal sebagai shunt. Tabung akan disisipkan dengan jahitan, sedangkan kateter berada di tempat semula.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Ventrikulostomi

Salah satu kemungkinan komplikasi ventrikulostomi adalah infeksi, yang umumnya terjadi karena luka pada area pembedahan. Jika infeksi tidak segera ditangani, maka akan terjadi sepsis atau peradangan sistemik, yang dapat memicu kegagalan organ tubuh. Komplikasi lain adalah pendarahan. Pasien tidak dianjurkan untuk menyentuh kantung selama masih dalam proses pengeringan.

Kantung yang dipasang dapat bocor karena terlalu banyak cairan serebrospinal yang diserap, kondisi ini disebut hipotensi yang menyebabkan sakit kepala luar biasa.

Rujukan:

  • Rosenberg GA. Brain edema and disorders of cerebrospinal fluid circulation. In: Daroff RB, Fenichel GM, Jankovic J, Mazziotta JC, eds. Bradley's Neurology in Clinical Practice. 6th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2012: bab 59.
Bagikan informasi ini: