Apa itu Vertebroplasti?

Vertebroplasti adalah prosedur pengobatan tanpa operasi yang dilaksanakan secara rawat jalan, berupa penyuntikkan campuran semen khusus ke dalam fraktur kolom vertebral (tulang belakang atau tulang punggung) untuk menggabungkan fragmen tulang, mengurangi nyeri, serta menyeimbangkan dan memperkuat tulang yang patah. Ini dilakukan untuk mengobati osteoporosis.

Kolom vertebral adalah kumpulan tulang yang membentuk urat saraf tulang belakang, sehingga memberikan struktur dan membuat tubuh menjadi lentur dan aktif. Apabila terserang penyakit atau mengalami cedera, tulang pada kolom vertebral akan retak. Ketika hal ini terjadi, fragmen yang retak atau patah akan mudah tergelincir, saling bergesekan, atau tulang menjadi tertekan dan rentan merasa nyeri. Sehingga, kelenturan dan keaktifan gerakan pasien berkurang.

Pada prosedur vertebroplasti, dokter spesialis ortopedi umumnya menggunakan teknik image-guidance, seperti zat kontras untuk mendeteksi lokasi kerusakan pada tulang belakang dan menyuntikan semen. Pada kasus tertentu, dokter juga akan melaksanakan prosedur kipoplasti, yaitu meletakkan perangkat balon di area fraktur untuk menyisakan ruang penyuntikkan semen.

Siapa yang Perlu Menajalani Vertebroplasti dan Hasil yang Diharapkan

Vertebroplasti seringakali dilaksanakan pada pasien yang menderita osteoporisis, penyakit degeneratif yang memicu kerapuhan tulang hingga melemah dan rentan terhadap fraktur. Osteoporosis biasanya dikaitkan dengan usia lanjut, kekurangan vitamin C dan D, serta menopause.

Vertebroplasti direkomendasi untuk pasien dengan fraktur kompresi tulang belakang yang disebabkan oleh cedera, termasuk sebelumnya pernah mengalami trauma yang memicu kerusakan pada tulang, penyakit seperti kanker atau tumor pada tulang belakang, pernah terjadi kerusakan di vertebra, infeksi serius, atau abnormalitas pada tulang, seperti penyakit Paget.

Selain itu, vertebroplasti diutamakan bagi mereka yang kondisinya tak kunjung membaik setelah menjalani perawatan non invasif, termasuk istirahat total, konsumsi obat-obatan, dan terapi pijat.

Prosedur vertebroplasti yang sederhana dan membutuhkan waktu singkat, tidak dapat mengahalau kambuh dan tidak mampu menangani penyakit yang memicu keretakan tulang, seperti osteoporosis Namun, mobilitas pasien akan kembali normal hingga 75% dan kualitas hidupnya pun meningkat dengan mengurangi atau melepaskan rasa nyeri.

Cara Kerja Vertebroplasti

Dokter memulai prosedur dengan pemeriksaan komprehensif terhadap rekam medis pasien dan pemeriksaan fisik untuk memastikan kelayakan kondisi pasien. Pemeriksaan ini meliputi pemindaian lengkap, seperti MRI scan dan rontgen, serta melakukan evaluasi pada obat-obatan dan suplemen yang dikonsumsi pasien, untuk memastikan tubuh tidak akan mengeluarkan reaksi pembalikan setelah penyuntikkan semen.

Saat prosedur berlangsung, pasien berbaring pada meja bedah di ruang rontgen dengan wajah yang menelungkup (tubuh tengkurap), sehingga seluruh punggungnya mudah dijangkau. Dokter akan menggunakan arahan rontgen langsung (real-time), biasanya dengan bantuan zat kontras untuk menentukan lokasi fraktur kompresi tulang.

Area bedah akan dibius sebelum memasukkan trocar atau alat bedah yang memiliki rongga untuk menyimpan dan mengalirkan campuran semen. Pada beberapa kasus, dokter bedah akan memasukkan balon untuk membuat jarak sebelum menyuntikkan semen. Hasil yang diharapkan, jumlah tulang yang rusak, dan kondisi umum fraktur tulang, akan menentukan jumlah suntikan, yang dapat diberikan lebih dari satu kali.

Pasien tengkurap minimal satu jam agar campuran semen mengeras dan beberapa jam untuk beristirahat pasca operasi. Dokter biasanya menyarankan pasien untuk menggunakan alat penyangga punggung selama 24 jam.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Vertebroplastis

Rasa nyeri dan tidak nyaman adalah komplikasi umum dari vertebroplasti dan umumnya berlangsung selama dua hingga tiga hari pasca operasi. Kondisi ini dapat diatasi dengan obat pereda nyeri dan berangsur hilang. Jika tidak kunjung hilang, pasien perlu melakukan konsultasi lanjutan pada dokter untuk memeriksa kemungkinan fraktur kompresi tulang yang tidak terobati. Walaupun jarang, pasien dapat mengalami pendarahan, iritasi saraf, infeksi, kebocoran semen, dan retak atau patah yang lebih parah.

Rujukan:

  • Anselmetti GC, Muto M, Guglielmi G, et al. Percutaneous vertebroplasty or kyphoplasty. Radiol Clin North Am. 2010;48(3):641-9. PMID: 20609898

  • Esses SI, McGuire R, Jenkins J, et al. The treatment of symptomatic osteoporotic spinal compression fractures. J Am Acad Orthop Surg. 2011;19(3):176-82. PMID: 21368099

  • Williams KD. Fractures, dislocations, and fracture-dislocations of the spine. In: Canale ST, Beaty JH, eds. Campbell's Operative Orthopaedics. 12th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2013 38.

Bagikan informasi ini: