Apa itu Perawatan Rehabilitasi?

Seperti namanya, perawatan rehabilitasi berfokus untuk merehabilitasi pasien yang mengalami cacat fisik akibat cedera atau penyakit. Dikenal juga dengan nama kedokteran fisik dan rehabilitasi atau physiatry. Cabang kedokteran ini didedikasikan untuk membantu pasien hidup senormal mungkin meskipun memiliki keterbatasan fisik.

Spesialis dari perawatan rehabilitasi disebut physiatrist. Meskipun mirip, ini berbeda dengan psikiatri yang berfokus pada penanganan masalah mental. Tapi, keduanya kadang berkerja sama dalam suatu kasus.

Mereka yang memiliki keterbatasan fisik sulit untuk hidup normal dan produktif. Kekhawatiran ini menjadi alasan kenapa perawatan rehabilitasi dibuat. Tidak seperti cabang kedokteran lain yang bertujuan mendiagnosa dan mengobati kondisi tertentu, perawatan rehabilitasi bertujuan membanti pasien mengatasi keterbatasan fisiknya. Oleh karena itu, physiatrist dilatih dalam kondisi yang beragam, seperti cedera tulang belakang dan masalah lain yang menyebabkan keterbatasan kemampuan fisik.

Siapa yang Perlu Menjalani Perawatan Rehabilitasi dan Hasil yang Diharapkan

Semua orang yang memiliki keterbatasan fisik yang menggangu hidupnya atau penderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan memicu masalah fungsional, perlu menjalani perawatan rehabilitasi.

Beberapa kondisi yang umumnya memerlukan rehabilitasi adalah osteoporosis, nyeri pungung kronis, cedera tulang belakang, osteoarthritis, ankylosing spondylitis, dan fibromyalgia. Physiatrist juga menyediakan rehabilitasi bagi mereka yang mengalami cedera akibat olahraga dan gangguan muskuloskeletal.

Hasil dari perawatan rehabilitasi ini berbeda dari satu pasien ke pasien lainnya. Beberapa pasien memberikan respon baik terhadap perawatan, sedangkan pasien lainnya membutuhkan lebih banyak waktu untuk merasakan hasil yang signifikan dari perawatan rehabilitasi. Namun yang pasti, jika dilakukan terus menerus dan berusaha sekuat tenaga, hasilnya pasti akan terlihat.

Cara Kerja Perawatan Rehabilitasi

Tiap perawatan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi pasien, oleh karena tiap pasien akan mendapatkan perawatan yang berbeda-beda. Namun, langkah pertama sebelum perawatan dilakukan adalah pemeriksaan fisik menyeluruh dan melakukan tes pemindaian untuk merumuskan rancana perawatan.

Physiatrist mengandalkan alat pemeriksaan tertentu untuk memeriksa fisik pasien, seperti mengidentifikasi kerusakan saraf atau otot. Termasuk elektromiografi (EMG), alat ini mengevaluasi aktivitas listrik yang dihasilkan otot. Dan, pemeriksaan kondusi saraf yang mengevaluasi kondisi saraf saat rileks atau terstimulasi.

Kadang, Physiatrist juga menggunakan alat tambahan seperti ultrasound, stimulator saraf, biopsi otot dan saraf, serta prostetik.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Perawatan Rehabilitasi

Meskipun perawatan rehabilitasi dirumuskan berdasarkan kebutuhan dan kondisi pasien, namun masih memiliki resiko dan kemungkinan komplikasi.

Misalnya, pasien perlu melakukan gerakan tertentu untuk membangun otot agar dapat berfungsi normal, ia beresiko mengalami cedera. Selain itu, pasien yang memiliki penyakit kambuhan beresiko menderita komplikasi. Oleh karena itu, physiatrist bekerja sama dengan dokter lainnya. Sehingga, komplikasi dapat dicegah atau ditangani dengan segera.

Kebanyakan metode pengobatan yang digunakan dalam perawatan rehabilitasi adalah non-bedah. Sebisa mungkin, physiatrist menggunakan metode pengobatan konservatif untuk menekan resiko dan komplikasi. Namun, jika metode non-bedah gagal meningkatkan kondisi pasien, pembedahan bisa dijadikan pilihan.

Resiko dan komplikasi tidak hanya terkait pada tubuh pasien, tapi juga psikologis. Pasien seringkali merasakan emosi yang naik turun karena menjalani perawatan rehabilitasi. Kondisi psikologis pasien diperhatikan dengan ketat. Dan jika ada masalah psikologis yang terlihat dapat segera diatasi. Sebab, dapat menurunkan efektivitas pengobatan.

Rujukan:

  • American Academy of Physical Medicine and Rehabilitation
Bagikan informasi ini: