Apa itu Infeksi Otak?

Otak adalah bagian tubuh yang paling penting, sehingga otak juga menjadi bagian tubuh yang paling terlindungi. Selain dilindungi oleh tengkorak, otak juga memiliki beberapa lapisan tambahan yang melindunginya dari bakteri dan virus yang dapat menyebabkan infeksi.

Sistem kekebalan tubuh adalah alat pertahanan utama tubuh untuk melawan bakteri, virus, dan parasit yang dapat menyebabkan infeksi. Banyak dari organisme ini yang dapat berpindah melalui darah. Seperti bagian tubuh lainnya, otak juga membutuhkan darah kaya oksigen untuk dapat bekerja dengan normal, namun karena organisme ini dapat merusak darah, tubuh telah menciptakan sistem pertahanan lain yang dapat menyaring darah sebelum darah masuk ke otak.

Penyebab Infeksi Otak

Walaupun sudah sangat terlindungi, sayangnya otak masih dapat terkena infeksi yang menyebabkan terbentuknya abses. Infeksi dapat menembus pertahanan otak dengan beberapa cara. Cara tersebut antara lain adalah:

  • Melalui keretakan di tengkorak. Apabila tengkorak tertusuk atau terbuka akibat cedera kepala atau operasi, pertahanan otak terhadap infeksi akan berkurang.
  • Melalui infeksi telinga atau gigi. Abses yang timbul di telinga atau gigi dapat dengan cepat berpindah ke otak apabila tidak ditangani.
  • Melalui infeksi pada darah. Apabila sistem kekebalan tubuh mengalami gangguan, darah dapat membawa infeksi ke dalam otak.
  • Melalui infeksi pada tengkorak. Apabila tengkorak terkena infeksi, kemungkinan besar infeksi tersebut juga akan mengenai otak.

Pasien dengan kondisi berikut memiliki risiko infeksi otak yang lebih tinggi:

  • Penyakit kronis seperti kanker
  • HIV/AIDS
  • Menjalani kemoterapi
  • Gangguan jantung, misalnya penyakit jantung bawaan
  • Kelainan bawaan
  • Infeksi gigi dan telinga

Penyebab utama infeksi otak yang paling umum adalah virus dan bakteri. Infeksi virus, seperti meningitis akibat virus, biasanya akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa saat; biasanya tanpa pertolongan medis. Namun, infeksi bakteri dapat menyebabkan lebih banyak masalah. Infeksi bakteri dapat menyebabkan kesulitan belajar dan berbicara, kelainan otak, bahkan kematian. Sebagian besar pasien yang terkena meningitis akibat bakteri akhirnya mengalami cacat permanen.

Gejala Utama Infeksi Otak

Infeksi otak dapat memiliki gejala yang beragam, tergantung pada jenis infeksi, penyebab, dan usia pasien. Pasien anak biasanya akan mengalami gejala seperti sakit kepala berat, muntah, demam, kebingungan, kantuk, dan kesulitan melihat cahaya matahari. Bayi biasanya akan menjadi mudah menangis dan sering mengantuk. Seiring bertambah parahnya infeksi otak, bayi kerap susah diberi makan dan kemungkinan besar akan mengalami kejang.

Apabila infeksi otak disebabkan oleh virus dan bukan bakteri, gejalanya biasanya akan mirip dengan gejala flu.

Pasien dewasa yang terkena infeksi sering kali merasa bingung, mudah marah, dan kurang responsif. Kemampuan berbicara mereka juga biasanya akan terganggu, sehingga mereka akan kesulitan berkomunikasi. Infeksi juga akan mengurangi penglihatan dan kinerja otot, sehingga pasien akan kesulitan bergerak, apalagi bepergian.

Semua orang yang mengalami gejala di atas harus segera mencari pertolongan medis. Infeksi otak harus ditangani secepat mungkin agar tidak menyebabkan kerusakan permanen.

Siapa yang Harus Ditemui & Jenis Pengobatan yang Tersedia

Karena banyak gejala infeksi otak yang mirip dengan gejala penyakit lain, pasien biasanya akan melakukan konsultasi dengan dokter keluarga mereka untuk mengeluhkan satu atau lebih dari gejala infeksi otak. Kemungkinan, dokter tidak akan langsung mencurigai adanya infeksi otak, namun akan mendiagnosis pasien dengan infeksi otak setelah melakukan berbagai tes.

Dokter biasanya akan mencari tanda perubahan perilaku atau kepribadian. Mereka juga akan memeriksa apakah tingkat kesadaran pasien telah mengalami perubahan. Apabila pasien mengalami demam tinggi, biasanya ini merupakan pertanda bahwa ada infeksi pada sistem saraf pusat.

Dokter juga akan memeriksa mata, gigi, dan telinga untuk mencari tanda infeksi. Saraf utama pada mata biasanya akan mengalami pembengkakan, gusi akan membengkak, dan telinga akan mengeluarkan kotoran yang berbau tidak sedap.

Apabila dokter mencurigai bahwa pasien telah terkena infeksi, ia akan melakukan uji pencitraan, seperti CT scan dan MRI untuk mengetahui apakah infeksi telah menyebar ke otak dan tingkat keparahannya. Dokter juga dapat melakukan spinal tap, yaitu sebuah tindakan untuk mengambil cairan sumsum tulang belakang dan menganalisis cairan tersebut untuk mencari infeksi.

Pengobatan infeksi otak akan bergantung pada tingkat keparahannya. Pada kebanyakan kasus, infeksi otak akan diobati dengan antibiotik. Pasien juga akan diberi obat-obatan untuk menangani demam dan sakit kepala. Pasien akan terus diawasi untuk mengetahui keberhasilan obat-obatan.

Apabila pasien mengalami kejang, obat antikonvulsan akan diberikan agar kejang tidak terulang kembali. Obat penenang juga dapat membantu menenangkan pasien yang mudah marah.

Apabila infeksi telah menyebabkan pembengkakan dan ada banyak abses yang timbul, dokter bedah saraf akan melakukan operasi untuk menghilangkan abses.

Apabila infeksi disebabkan oleh virus, dokter bisa memutuskan untuk tidak memberi obat-obatan pada pasien karena infeksi biasanya akan sembuh dengan sendirinya. Namun, apabila infeksi disebabkan oleh virus herpes, dokter akan memberikan obat antivirus yang khusus untuk menangani infeksi virus herpes.

Apabila infeksi otak akibat bakteri sudah ditangani sejak dini, sebagian besar pasien dapat pulih tanpa mengalami kerusakan otak permanen. Namun, apabila infeksi otak memburuk dengan sangat cepat dan pasien tidak mendapatkan pertolongan medis, pasien bisa meninggal dalam hitungan hari.

Apabila pasien bisa selamat dari infeksi otak yang parah, besar kemungkinan ia akan mengalami cacat permanen. Pasien dapat kehilangan kemampuan penglihatan, pendengaran, dan kemungkinan besar akan mengalami gangguan intelegensi.

Kecuali beberapa jenis tertentu, infeksi virus biasanya tidak berbahaya dan tidak menyebabkan kerusakan permanen. Beberapa jenis infeksi virus, walaupun jarang, dapat menyebabkan kerusakan permanen dan kematian.

Infeksi otak biasanya dapat dicegah dengan menghindari atau segera mengobati infeksi jenis lainnya, terutama infeksi pada mata, telinga, atau gigi. Dokter juga menyarankan pemberian vaksin Hib bagi anak dan vaksin untuk meningococcal meningitis.

Rujukan:

  • Tunkel AR. Brain abscess. In: Bennett JE, Dolin R, Blaser MJ, eds. Mandell, Douglas, and Bennett's Principles and Practice of Infectious Diseases. 8th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2015:chap 92.

  • Tunkel AR, Scheld WM. Brain abscess. In: Winn HR, ed. Youman's Neurological Surgery. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 43.

Share This Information: