Apa itu Diabetes Nefropati?

Diabetes adalah penyakit serius yang menyebabkan kerusakan organ-organ tubuh seperti ginjal. Ginjal memiliki sistem penyaringan yang mampu menghasilkan jutaan glomerulus yang berfungsi untuk membuang limbah dari darah. Ketika diabetes merusak sistem penyaringan ini, maka kondisi ini disebut sebagai diabetes nefropati.

Diabetes nefropati dapat disebabkan oleh diabetes tipe 1 atau tipe 2. Jika kondisi ini semakin parah, maka akan menyebabkan kegagalan ginjal atau yang disebut penyakit renal tahap akhir (end-stage renal disease/ESRD), yang mengharuskan pasien untuk menjalani dialisis (cuci darah) dan/atau transplantasi ginjal. Akan tetapi, statistik menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil pasien diabetes nefropati dengan diabetes tipe 2 yang menderita ESRD.

Karena diabetes nefropati kemungkinan terjadi sebagai bentuk komplikasi dari diabetes, sangatlah penting bagi para penderita diabetes untuk menjalani tes fungsi ginjal secara berkala. Selain merusak ginjal, diabetes juga dapat menyebabkan masalah jantung, misalnya penyakit jantung.

Penyebab Diabetes Nefropati

Penyebab utama dari diabetes nefropati adalah diabetes itu sendiri. Walaupun biasa diderita oleh pasien diabetes, tidak semua pasien diabetes mengalami kondisi ini. Hal tersebut membuat para dokter yakin bahwa ada faktor-faktor lain yang menyebabkan terjadinya diabetes nefropati.

Beberapa penyebab diabetes nefropati yang umum adalah merokok, kolesterol tinggi, dan tekanan darah tinggi. Kegagalan dalam mengendalikan kadar gula darah dan memiliki anggota keluarga yang terkena diabetes serta gangguan ginjal juga meningkatkan risiko terjadinya diabetes nefropati.

Gejala Utama

Walaupun kunci keberhasilan pengobatan dari banyak penyakit adalah dengan melakukan pengobatan sedini mungkin, hal ini akan sulit dilakukan pada banyak pasien diabetes nefropati karena kondisi tersebut tidak menunjukkan gejala apapun dalam tahap awalnya.

Namun, jika pasien menjalani tes urin secara teratur, maka ada kemungkinan diabetes nefropati dapat diketahui sejak awal. Jika demikian, kemungkinan kesuksesan dalam memulihkan kerusakan ginjal akan meningkat.

Beberapa tanda-tanda kerusakan ginjal yang sering terjadi adalah:

  • Pembengkakan di kaki dan betis
  • Meningkatnya kadar kolesterol
  • Meningkatnya tekanan darah
  • Kadar protein dalam urin bertambah
  • Tidak nafsu makan
  • Penurunan berat badan
  • Sulit tidur
  • Merasa lemas
  • Muntah atau pusing

Pasien diabetes biasanya mengalami peningkatan kadar gula dalam darah. Tetapi, jika diabetes nefropati memburuk dan menyebabkan kerusakan yang parah, kadar gula akan menurun secara drastis. Hal ini disebabkan karena ginjal tidak lagi menyaring obat-obatan yang meningkatkan produksi insulin, sehingga kelebihan insulin tidak lagi dapat dibuang dari sistem.

Siapa yang Harus Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pasien yang didiagnosis dengan diabetes sebaiknya kondisinya diawasi oleh dokter secara teratur agar kondisinya tidak memburuk dan memengaruhi organ-organ lain dalam tubuh. Para dokter biasanya melakukan beberapa tes untuk memeriksa fungsi ginjal pasien. Tes tersebut meliputi:

  • Tes Albumin- Tes ini dirancang untuk memeriksa keberadaan protein dalam urin Anda. Protein biasanya tidak ditemukan dalam urin, kecuali jika Anda menderita demam. Tetapi, jika Anda menderita diabetes dan urin Anda mengandung protein, maka besar kemungkinan bahwa ginjal Anda tidak lagi dapat menyaring protein seperti seharusnya. Tes albumin biasanya dilakukan dua kali dalam jangka waktu 3-6 bulan. Jika kedua tes tersebut memberikan hasil yang positif, maka anda akan didiagnosis menderita diabetes nefropati. Tes albumin merupakan prosedur standar terhadap para penderita diabetes. Bahkan, pasien dengan diabetes tipe 1 harus menjalani tes ini setiap 5 tahun. Untuk pasien diabetes tipe 2, tes albumin dilakukan setiap setahun sekali.

  • Tes kreatinin- ini merupakan salah satu bentuk tes darah yang juga dapat memastikan kerusakan ginjal. Tes ini dilakukan untuk mengukur kadar kreatinin (produk limbah yang terbentuk ketika kreatin terurai) dalam darah. Ginjal membuang produk limbah ini dari tubuh. Meningkatnya kadar kreatinin menunjukkan kemungkinan kerusakan ginjal.

  • Tekanan darah dan kadar kolesterol Anda juga harus diperiksa. Mempertahankan tekanan darah dan kadar kolesterol yang normal dapat menurunkan risiko terjadinya diabetes nefropati.

Pengobatan diabetes nefropati dimulai dengan menurunkan tekanan darah pasien menggunakan beberapa obat. Umumnya, resep obat sudah termasuk penghambat enzim pengubah angiotensin (angiotensin-converting enzyme/ACE) dan penghambat reseptor angiotensin II (angiotensin receptor blocker/ARB). Hal yang sama juga dilakukan untuk menurunkan kadar gula pasien.

Pasien kemudian disarankan untuk menjalani gaya hidup sehat. Membiasakan pola makan yang sehat dan melakukan olahraga secara rutin setiap hari akan membantu menurunkan kadar gula secara signifikan. Jika Anda mengonsumsi insulin, Anda harus melanjutkan pengobatan sesuai anjuran dokter Anda.

Pasien diabetes harus berhati-hati dalam mengonsumsi obat-obatan. Banyak obat akan merusak ginjal, terutama ginjal yang telah melemah. Sebagai contoh, obat anti peradangan non-steroid (non-steroidal inflammatory drug/NSAID) terkenal dapat merusak ginjal. Jika Anda merasa harus mengonsumsi obat ini, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter Anda terlebih dahulu. Dokter Anda akan mampu memberikan solusi alternatif yang lain.

Anda juga dapat mencegah kerusakan ginjal lebih parah dengan menghindari infeksi-infeksi saluran kencing serta mengetahui gejalanya.

Banyak pasien diabetes yang juga mengonsumsi berbagai obat-obatan untuk kondisi lain. Tetapi, jika dokter mengetahui keberadaan diabetes nefropati, ia mungkin harus menghentikan pemberian obat-obatan tersebut, terutama yang menyebabkan kerusakan lebih lanjut terhadap ginjal. Obat-obatan lain akan diberikan untuk sementara waktu.

Diabetes merupakan kondisi yang serius, dan diabetes nefropati hanya akan memperburuk kondisi pasien. Gagal ginjal adalah salah satu penyebab kematian tertinggi di antara pasien diabetes, maka ada baiknya untuk memastikan bahwa Anda tetap memeriksakan diabetes Anda untuk mencegah terjadinya diabetes nefropati.

Rujukan:

  • American Diabetes Association. Standards of medical care in diabetes -- 2014. Diabetes Care. 2014;37 Suppl 1:S14-S80.

  • National Kidney Foundation. KDOQI Clinical practice guideline for diabetes and CKD: 2012 update. Am J Kidney Dis. 2012;60:850-886.

  • Parving H, Mauer M, Fioretto P, et al. Diabetic nephropathy. In: Taal MW, Chertow GM, Marsden PA, et al., eds. Brenner and Rector's The Kidney. 9th ed. Phila

Share This Information: